Thursday, March 6, 2008

Chapter of my life (2)

Tibalah hari saya harus berangkat ke tempat kerja saya yang pertama. Deg-degan plus exciting, secara itu akan jadi saat pertama saya naik pesawat terbang. Saya perhatikan baik-baik petunjuk keselamatan penerbangan yang diperagakan oleh pramugari, saya hapalkan letak pintu darurat, saya cek keberadaan jaket pelampung dibawah kursi, dll. Sudah itu, saya coba menyamankan diri sendiri dengan memeriksa segala sesuatu didekat saya: meja yang bisa dilipat, arm-rest yang bisa dinaik-turunkan, reclining seat control, saluran AC diatas kepala. Hmm.. sudah hapal semua, sambil saya membayangkan akan menceritakan kepada Bapak dirumah, how it is like being in an aeroplane.

Pemberhentian pertama (seperti biasa) adalah Changi. Ohalah, jadi ini toh yang namanya Changi. Ck ck ck... masyaallah luasnya. Pantas Singapore butuh banyak pasir laut untuk memperluas daratannya, lha satu sarana infrastruktur yang dia punya sudah sebesar ini... Biarpun mata mengantuk dan badan pegel, tetap saya mempergunakan waktu 2 jam berhenti untuk window shopping didalam airport. Semua sudut saya kunjungi dan saya analisa sendiri didalam hati. Euphoria gitu loh...

Penerbangan selanjutnya mengantar saya ke Bangkok. Thai Intl airport tidak jauh berbeda dg airport kita. Saya harus pindah ke terminal domestik untuk naik pesawat ke Phitsanulok. Hampir 3 jam saya harus menunggu pesawat berikutnya, yang saya lewatkan hanya dengan duduk2 dan mengobrol dg seorang calon penumpang lain yang (amat sangat kebetulan) ganteng. Jam 7 malam, pesawat saya berangkat ke Phitsanulok, dan mendarat di bandara setempat pkl 8. Setelah mengumpulkan barang2 bawaan, saya melihat berkeliling mencari penjemput. Bandara Phitsanulok ini bandara kecil (lebih kecil dari Bandara Adisutjipto sebelum renovasi lah..). Celingukan kesana kemari, tidak juga saya dapati orang memegang kertas bertuliskan nama saya. Hwarakadah... piye iki? Saya coba tanya orang didekat saya ttg keberadaan kantor Schlumberger terdekat. Jawaban yang saya dapat hanyalah gelengan kepala dan ekspresi tidak mengerti. Saya coba bertanya pada petugas bandara. Respons yang saya dapat kurang lebih sama. Dan saya mulai sadar, orang2 ini tidak berbahasa Inggris. Keringatan deh saya, tanda mulai panik... Dan waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, petugas bandara sudah memberi isyarat kepada orang2 yang masih berada di dalam untuk segera keluar karena bandaranya mau digembok !!

Hmm... be calm, Widia”, I said so to myself. Saya jadi ingat kalau berbekal contact number orang kantor. Tapi saya tidak yakin kalau nomer tersebut bukan nomer kantor. Jam segitu, siapa sih yang masih nekat ada dikantor (begitu pikir saya ketika belum mengenal Schlumberger). Tapi daripada tidak ada yang dicoba, saya nekat masuk ke bilik telepon umum. Untung ada beberapa receh Thai Bhat di dompet. Setelah bertanya pada porter2 yang ada (dan mereka begitu baik serta helpful) uang mana yang musti saya masukkan utk menelepon, saya tersambung juga dg contact person yang seharusnya meng-arrange penjemputan saya. Nada yang saya dapatkan adalah nada terkejut: “Hah? Are you in Phitsanulok right now? I thought you’ll be coming here next week..” ...ggrrhh.##@@#&&!!...

Jadi, singkat cerita, setelah beberapa pisuhan dalam hati kepada orang2 yang terlibat dalam kasus miskomunikasi tersebut, saya diinstruksikan untuk menginap di sebuah hotel. Dengan menumpang sebuah mobil taksi gelap, saya diantar dg selamat sampai ke depan hotel. Dan sopirnya begitu baik, dengan menyuruh saya menunggu didalam mobil ketika dia menukarkan uang untuk kembalian. Padahal setelah begitu capek, sebal, lapar, haus, badan lengket, saya tidak begitu peduli nilai uang yang saya sodorkan pada pak supir. Lagipula saya juga tidak mengerti berapa seharusnya saya bayar, wong bapak itu tidak berbahasa Inggris dan saya tidak berbahasa Thai.

Begitulah, akhirnya saya tinggal di Thailand untuk beberapa saat. I did enjoy my stay in Thailand. Ate its fenomenal food. Got many friends. Visited many beautiful places. Sampai tiba saatnya, saya harus berangkat lagi menuju ke tempat pemberhentian selanjutnya: Kellyville, Oklahoma.

bersambung....

No comments: