Tuesday, January 28, 2020

Drama itu....

Walaupun rencana liburan ke Iran ini mudah dan lancar, sebetulnya ada drama di balik itu.

Drama?
Hahaha...mungkin agak berlebihan kalau disebut drama ya.

Jadi begini ceritanya.

Seminggu setelah memutuskan untuk pergi ke Iran (sudah apply visa online tetapi belum diambil), tiba-tiba menyeruak kabar bahwa Iran rusuh.
Asal muasalnya karena kenaikan BBM.
Di semua berita dari channel berita yg terpercaya menyatakan, bahwa kerusuhan akibat demonstrasi kenaikan BBM ini merata terjadi di seluruh negara.

Blaik!

Tiket sudah dibeli.
Dan karena pingin ngirit, Mas Bojo membeli tiket promo yang sepromo-promonya.
Akibatnya, tiket itu tidak bisa direschedule maupun di refund... 😥

Tapi saya masih rada optimis nih.
Biasanya demo2 kayak begini seminggu juga selesai.
Jadi, santuy saja lah....

Sekitar pertengahan November, ketika saya mau recek semua bookingan tempat menginap dan cek aplikasi visa online, tidak ada satupun web tersebut bisa dibuka.
Ada apa ini?
Saya cek kalender, belum waktunya Indihome saya diisolir oleh Telkom.
Atau, karena kuota habis gegara Nino sering main game online?

Ga sengaja iseng2 buka YouTube.
Ada melintas berita ttg internet shutdown di Iran.
Mulai nih, hati rada deg2an ga enak.
Kl sampai pemerintah mematikan jaringan internet, pasti ada apa-apa....
Dan semakin saya mencari berita ttg Iran, semakin ciut nyali untuk kesana.

Belum kelar menimbang2 mau jadi berangkat ke Iran atau tidak, timbul drama baru.
Saya yang biasanya tanggal2 segitu datang bulan, ternyata sudah 3 minggu si "bulan" tidak kunjung datang berkunjung.
Haduh!
Masa hamil lagi sih....
Dua tahun sebelum ini, saya juga keguguran akibat dari hamil yg tidak direncanakan 😒
Kagak ada kapoknya!

Tepat 4 minggu dari seharusnya saya haid, saya beli test pack.
Dan seperti yang sudah kami sangka sebelumnya, hasil test positif.
Beberapa jam kami tercenung2, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.... 😅

Setelah berhasil mengumpulkan akal sehat, saya berpikir mungkin ini "signs from the universe" bahwa kami memang tidak boleh pergi ke Iran.
Yasud lah...
Diikhlaskan saja tiket yg hangus itu.
Insyaallah kalau masih punya rejeki, kami bisa kesana suatu hari nanti.....

Oktober 2019 (2)



Saatnya apply visa, then.

Dari info sana sini, ternyata mengurus visa Iran lumayan gampang.

1. Bisa apply langsung di Kedutaan Iran sambil membawa dokumen persyaratan.
Beberapa hari kemudian visa jadi.

2. Bisa apply mengisi formulir online dan memilih tempat pengambilan visa setelah jadi.

3. membeli VOA di terminal kedatangan di Iran.

Well, setelah menimbang2, kami memilih opsi yang paling murah: mengisi formulir online dan mengambil visa di Kedubes Iran di Jakarta.
Walaupun ternyata opsi tersebut menjadi tidak murah karena ditambah dg tiket pesawat pp Jogja-Jakarta 😊

Wednesday, January 22, 2020

Oktober 2019 (1)



Untuk liburan Desember, akhirnya kami putuskan untuk pergi ke Iran.

Iran?

Yes, Iran!

Why?
Combination of factors:
Pak Muchtar nggak mau ke Oman.
"Masa kerja di Oman, kalau liburan disuruh ke Oman lagi?"
Fine!

Daffa cuman mau ikut kalau perginya ke Iran.
"Kalau selain ke Iran, Abang di rumah aja lah, mendingan ngerjain event sama teman2..."
Hmmm...

Saya?
Kemana ajalah, yang penting piknik!

Nino?
"Terserah aja mau pada kemana...."
Dasar bocah penurut... 😛


Jadi,
Sebenernya yg minta Iran dijadikan destinasi kami itu si Abang.
Gimana asal muasalnya sampai milih Iran?

Jadi, suatu hari sepulang sekolah (SMP) dia mampir ke Gramedia dekat sekolah.
Trus ada beberapa kotak di halaman toko, berisi buku-buku yang sdg diobral.
Nah, ada buku ttg Travelling Iran yg nyelip disitu.
Dibelilah buku itu, dibawa pulang dan dibaca (beneran dibaca loh. Yang sebenernya untuk Daffa, ini adalah kejadian luar biasa dia baca buku yg tidak diwajibkan untuk dibaca... )
Sejak itu, dia tidak berhenti "mempengaruhi" kami untuk memutuskan pergi ke Iran.

Tuesday, June 14, 2016

Konsisten

Kapan hari itu, saya makan siang agak sore di warung lotek Bu Bagyo Sagan.
Ini warung lotek yang terkenal dengan keenakan dan kemurahan harganya di Jogja. Oleh sebab itu, pemilihan waktu makan di warung ini sangat penting. Terutama untuk menjaga hati dan perut supaya tidak terlalu pedih menunggu pesanan yang agak lambat tiba di meja kita.
Saat yang paling tepat untuk makan disini adalah selewat waktu makan siang khalayak ramai.

Buat saya, warung lotek Bu Bagyo Sagan ini menduduki peringkat kedua sebagai warung lotek yang saya rekomendasikan untuk didatangi...
Posisi kedua setelah warung lotek Bu Bagyo Kolombo.
Kenapa peringkat kedua?
Rasa lotek di kedua warung itu kurang lebih sama. Harga seporsi lotek plus teh panas tawar juga kurang lebih sama.
Yang menjadi nilai minus warung di Sagan ini adalah kasir yang nyebelin dan pelayan yang sering salah bikin pesanan (yang sudah jelas tertulis di secarik kertas pesanan).

Tapi, sudahlah....
Yang paling penting bagi saya, ketika lapar menyerang, mata berkunang-kunang, pikiran macet untuk diajak beride.... segeralah menuju ke warung makan terdekat!

Sambil menikmati lotek pesanan khusus (dobel bakwan, pake telur rebus, tambah potongan tahu bacem), saya mengamati sekeliling.
Sengaja saya duduk dekat kasir, karena kepengin memantau gerak gerik bu kasir...
Hihihi....
Saya penasaran aja. Kenapa sih, bu kasir ini begitu galak dan nyolot kepada kebanyakan pembeli?
Toh kami selalu membayar tanpa kurang barang yang kami pesan.
Lagipula, gimana bisa kami bayar kurang? Lha wong pesanan dibuat setelah pembayaran selesai dilakukan.

Setengah piring berlalu, ketika seorang wanita bule (20 thn-an) datang.
Dia menuju ke tempat bu kasir untuk menuliskan makanan pesanannya dan membayar.
Saya sudah bersiap-siap dengan prasangka bahwa si ibu kasir akan memperlakukan mbak bule ini dengan lebih ramah daripada memperlakukan kami para pembeli pribumi.

Eh...
Ternyata saya salah!
Bu kasir ternyata tetap konsisten dengan kejudesannya kepada pembeli.
:D :D :D

Maafkan saya, Bu Kasir.
Saya hapus label rasis yang hampir saja saya sematkan pada anda.
Ternyata sifat judes anda tidak lekang dan pudar oleh siapapun yang anda hadapi.





Saturday, October 25, 2014

Kemandirian anak

Kebanyakan ortu jaman sekarang kepengin sekali anak-anak mereka mandiri secepat mungkin.
Tak terkecuali saya.

Umur 4 tahun, si Abang sudah saya ajari untuk bisa makan sendiri tanpa perlu disuapin.
Pernah waktu itu saya sekeluarga berkunjung dan menginap di rumah paman. Beliau terheran-heran dan menegur saya karena membiarkan Abang yg waktu itu baru 4,5 tahun makan tanpa disuapin.

Lain Abang lain pula Nino.
Si bontot ini malah sejak bayi sudah saya biasakan tidur di tempat tidurnya sendiri di kamar anak-anak (sekamar dg abangnya), dengan berbekal baby monitor.
Dan tentu saja ini menuai protes banyak orang yang (waktu itu) saya kategorikan sebagai old fashioned people. Tak kurang-kurang, mertua saya mengatakan bahwa saya ortu yg tega pada anak.
Masa sih, anak umur 2 thn harus tidur tanpa digendong.

Waktu itu saya adalah wanita bekerja.
Of course, dengan waktu yang minim dipunyai untuk bersama dg anak-anak, saya menginginkan quality time bersama mereka.

Definisi quality time kala itu, bagi saya kira-kira adalah begini: saya menghabiskan sisa waktu saya hari itu bersama anak-anak untuk mempelajari sesuatu, bermain lego, jalan-jalan ke suatu tempat, membaca buku bersama-sama, dlsb.
Dan tentu saja, dalam kriteria saya,  segala kegiatan yg menyenangkan tersebut minus hal-hal tidak penting sebangsa: meyuapi makan, memandikan, memakaikan baju, ngelonin tidur....

Ide tentang kemandirian anak yang berkembang dalam pikiran saya, semakin dipupuk dengan banyaknya artikel dan mail chains dalam milis-milis parenting yang saya ikuti.
Anak harus sedini mungkin dilatih untuk mandiri!

Abang dan Nino memang menjadi anak-anak yang mandiri.
Kemandirian mereka amat sangat mempermudah hidup saya sebagai wanita bekerja, dimana saya harus berangkat pagi-pagi untuk mengejar meeting pagi dengan client dan pulang kadang selepas maghrib baru sampai di rumah (kalau saya cukup beruntung tidak ada masalah di tempat kerja).

Kala itu.



Dan sekarang saya adalah ibu di rumah. Kegiatan utama saya seputar anak-anak, dapur, suami, balik lagi ke anak-anak.

Terkadang saya sering menyesali keputusan untuk memandirikan anak-anak terlalu dini. Sering saya kangen menyuapi mereka. Saya kangen pada 'rasa dibutuhkan' oleh anak-anak.

Abang bahkan sering meminta saya untuk tidak usah mengantar berangkat lomba, bahkan apabila lomba itu diadakan di luar kota. Dia ingin pergi sendiri, tanpa mamanya, hanya bersama teman-teman dan gurunya....

Rasanya mereka tumbuh terlalu cepat ya....

Seandainya dulu saya tahu, bahwa mereka akan tumbuh secepat ini, saya akan lebih sering ngelonin mereka, menyuapi makan, memandikan, memilihkan baju untuk mereka pakai....


Friday, October 24, 2014

Kembali ke.... laptop!

Lap lap meja belajar lageee...

Buka buka buku Om Oz Yilmaz lageee...

Siap siap bakal sering begadang lageee....

Besok mulai naik bis dan gendong ransel laptop lagee....



Arisan, libur dulu....

Rapat Komite Sekolah, direm dulu...

Shopping shopping, bikin list aja dulu....


Sarapan bareng mommy solehah?
Nah, kalo yg satu ini, tetep harus jalan....
demi menjaga supaya pikiran tetep sehat
*eh, atau sebaliknya ya? =D







.

Tuesday, October 21, 2014

Di ujung pagi bersama Pak Pulisi....

first posted on Apr 14, '10 5:06 AM

"Maaf, ada apa ya Pak?" demikian pertanyaan pertama yang dilontarkan suami saya kepada Bapak Aparat kepolisian ketika mobil kami dipersilakan untuk berhenti di bahu jalan, sedikit di luar kota Jombang.

"Saudara tahu tidak, kalau garis marka yang lurus dan tidak terputus yang membatasi jalanan dg bahu jalan itu berarti Saudara tidak boleh berpindah jalur" Pak Aparat menjawab dengan nada tegas, lugas dan jelas...

Suami saya manggut-manggut sembari menahan nyengir keki. Beberapa ratus meter dari tempat mangkal Bapak2 Aparat ini, kami memang mendahului barisan beberapa trailer yang berjalan sekitar 40 km/jam dari sisi sebelah kiri. Salah? Lha ya sudah jelas iya....
Walaupun dalam hati kami agak sedikit mencari pembenaran dari tindakan kami: 'Masa sih, harus merayap 40 km/jam sampai beberapa kilometer berikutnya untuk bisa mendahului... Toh di sisi sebelah kiri kosong melompong gitu loh.....'

Dan karena menyadari memang kami melakukan kesalahan, suami saya terima2 saja diwejang oleh Bapak2 Aparat tadi.
Dan seperti sudah diduga, diujung wejangan singkat tsb, seorang Bapak Aparat yang mungkin bertugas sebagai sekertaris rombongan mengeluarkan segepok slip tanda tilang yang berwarna putih dengan tembusan kuning dan merah jambu.

"Jadi, Saudara mau menitip berapa untuk biaya sidang pelanggaran ini?" seorang Bapak Aparat berkumis tebal langsung bertanya to the point, tanpa tedeng aling-aling, tanpa merasa sungkan...
Kebetulan, terlihat beberapa supir kendaraan (4-5 orang) yang ikut terjaring hampir bersamaan kami mengeluarkan dompet dan masing2 'menyetor' Rp. 50.000 kepada Bapak Aparat bendahara rombongan....

Ke(tidak)betulan, semenjak berangkat dari rumah kami tidak menemukan lokasi ATM dipinggir jalan yg kami lalui. Sementara uang di dompet, kalau dikumpul2kan (beserta beberapa lembar ribuan untuk cadangan ongkos parkir) paling banter hanya Rp. 70 000.
Nah, kalau kami sedekahkan 50rb utk bapak-bapak aparat berkumis itu, bagaimana pula kami harus memberi makan 4 perut dg uang 20rb?

"Kebetulan saya tidak membawa banyak uang, Pak. Sementara saya juga tidak bisa tinggal lama di kota ini untuk ikut sidang. Saya minta slip biru saja supaya bisa membayar denda di BRI.." jawab suami saya.

Kok ya pas banget, beberapa hari ini kami sering mendiskusikan ttg slip biru yang memudahkan para 'tertilang' dan mengurangi kesempatan para polisi nakal untuk memancing di air keruh....

Eh, lha kok nggak disangka... Bapak Aparat yang menyuruh suami saya minggir tadi malah marah... Seorang aparat yang lain ikutan pula nimbrung memojokkan suami saya, menegaskan bahwa dia saksi dari pelanggaran ini. Kalo suami saya gak terima ditilang, boleh melaporkan nama dia ke kantor, sambil menuding2 name-tag di dadanya...

"Nih, catat nama saya ! Laporkan ke kantor polisi sana kalau Saudara gak terima ! Saya gak takut !"

Loh...loh....

Piye toh, Pak Pulisi....
Lha wong suami saya sudah jelas mengaku bersalah karena melanggar marka... sudah mau menerima ditilang.... cuman memang minta slip biru supaya gampang bagi kami....

Lah, dasar suami saya juga....
Gak terima dia dibentak2 sambil ditarik2 lengannya kesana kemari kayak bgitu... Ikut ngotot juga dia.....

Saya di mobil bersama anak-anak cuman bisa kuwatir sambil harap2 cemas... "Mbok ya sudah toh, Pakne..." kata saya dalam hati saya sambil tetap mengawasi diskusi yang kelihatannya sudah dikuasai emosi....

Untung ketua rombongan Pak Bos Aparat Kepulisian yang selama itu hanya duduk manis di tempat teduhan turun tangan dan melerai...

"Mas, kalau di sini kami tidak menyediakan slip biru.... Pembayaran disini masih belum online kayak di kota Mas sana.... Ini kan kota kecil, Mas... Sudah, Mas boleh pergi lagi. Ini SIM dan STNKnya..."

Loh, kok nyuruh perginya gampang banget gitu.... Gak sinkron sama pertunjukan marah2 sebelumnya?

Ohalah, setelah diamati, kami baru maklum.... Kalau mereka berhenti terlalu lama pada satu kasus yang gak jelas bisa menghasilkan duit atau tidak, momen yang ada (para mobil yang melanggar marka, red.) bakal banyak yang terlewat.... yang berarti terlewat juga 50rb x __ mobil, yang (bisa) berarti gak bisa ajak anak istri shopping akhir minggu besok....

Dan tetes pertama hujan yang menemani perjalanan panjang kami hari itupun turun.
Bergegas kami meninggalkan Bapak-Bapak Aparat Kepolisian penuh dedikasi yang tetap bertugas ditengah rintik hujan demi ketertiban dan kenyamanan para pemakai jalan....

Sekelumit wajah polisi bangsaku.....

e-card, e-payment, e-alaaahhh.... kebablasan!

Jaman saya pernah tinggal di negeri antah berantah, tahun 2000 dulu, saya sempat terbengong dan terkagum melihat kebiasaan orang di supermarket membayar dengan 'uang plastik'.

Dalam pemahaman saya waktu itu, uang plastik itu ya kartu kredit. Ndak tau dan ndak paham kalau ada kartu bayar lain yang bukan kartu kredit.
Sempat agak minder pada orang2 itu, karena saya dan seorang teman Asia yang lain, 'trimo' membayar dengan uang tunai.
Terkadang, untuk sedikit menghibur diri sendiri, saya berpikir: "Kan jelas dengan begini, kalau kami beneran punya uang, sementara orang2 itu kan pake kartu ngutang"

Kemudian, setelah bekerja dan mengenal beberapa alat pembayaran selain uang tunai, saya mulai membiasakan diri untuk mengurangi menenteng2 uang tunai.
Selain rasanya tidak aman, juga "tidak setil"... nggak keren....

Beberapa bulan yang lalu saya menyadari bahwa kebiasaan itu membuat saya sering 'kebablasan' tidak punya uang sama sekali di dompet maupun di tas.

Pernah suatu ketika, saya dan anak2 makan di sebuah restoran di pinggir Jl Urip Sumoharjo.
FYI, Jln Urip Sumoharjo ini termasuk kategori jalan utama di Jogja.
Nah, setelah pesanan datang ke meja, kami pun mulai makan. Tengah2 kami makan sambil ngobrol, tiba2... deg!! saya teringat kalau tidak punya uang tunai di dalam dompet.
Ada uang Rp 2000 yang hanya cukup untuk ongkos parkir.

Mulailah saya merasa was was dan tidak begitu menikmati makanan. Walaupun berkali2 juga saya menghibur diri: "Ah, masa sih... restoran di pinggir jalan besar begini tidak punya mesin untuk kartu kredit/debet?"

Dan ternyataaa.... restoran itu memang benar2 tidak punya mesin untuk kartu kredit/debet!!


Hal 'kebablasan' lain yang sekarang sering terjadi pada saya adalah: tidak punya pulsa telefon.

Saking banyaknya kontak yang menggunakan layanan messenger gratisan, akhirnya saya terbiasa menggunakan itu untuk sarana komunikasi yang utama.

Jadi, kebiasaan saya hanya mengisi sejumlah uang/pulsa di awal bulan yang hanya cukup untuk membeli paket internet selama bulan itu.

Nah, ketika ada saat saya harus membalas sms atau menelepon balik relasi saya... terpaksa harus tanya kanan kiri sambil pasang tampang memelas, berharap ada yang membolehkan saya membeli pulsa mereka.

Monday, September 10, 2012

sebuah doa yang 'salah waktu'

first posted on Feb 16, '10 1:25 PM

Hari kemarin adalah hari yang super duper sibuk buat saya. Mulai dari pagi hari semenjak keluar dari pintu rumah untuk mengantar anak-anak sekolah, sampai sore hari saya harus menjemput anak-anak dari kegiatan sore. Saking sibuknya, saya sampai terlupa bahwa hari itu seharusnya saya mengisi bahan bakar kendaraan.
Saya memang tipe orang yang agak 'ceroboh' dan tidak terlalu teliti dalam hal-hal beginian. Terkadang, dengan indikator bahan bakar yang sudah agak mepet di huruf "E" pun saya masih suka mikir : 'ah, lampu indikatornya belum nyala ini....'
FYI, saya biasanya hanya mengisi bahan bakar seminggu sekali, karena malas antri di SPBU.

Jam 16-an, pas habis menjemput anak-anak dari kegiatan sore, kami menuju ke tempat parkir. Sebenarnya saya agak enggan pulang jam2 segitu, karena lalu lintas yang semrawut dan kondisi Jogja sekarang yang sering macet dimana-mana. Ditambah lagi, jam2 segitu masih ada beberapa ibu yang masih menunggu anaknya selesai berkegiatan. Jadi masih bisa mengobrol barang 20-30 mnt lagi... (he he he... lumayan dapat kabar berita dari beberapa bagian kota...). Tapi berhubung para kawula alit anggota pasukan Ndalem Kemuchtaran ini sudah pada iyik minta pulang dari tadi (karena di tivi bakal ada filem kartun yang sudah ditunggu2 launchingnya semenjak beberapa minggu yll), terpaksa saya bersiap untuk pulang juga.

Ketika mesin dihidupkan, yang nampak pertama adalah lampu indikator BBM yang sudah menyala. Weitss.... saya langsung kaget dan was-was. Menghitung jarak antara posisi kami saat itu dg SPBU terdekat beserta segala kemacetan yang bakal kami alami. Eh, lha kok tiba-tiba saya tersadar juga bahwa saya tidak membawa uang tunai. Sementara di Jogja belum lazim belanja bahan bakar dibayar dengan menggunakan kartu plastik. Jadi, jarak antara posisi saya saat itu dg SPBU harus ditambah juga dengan jarak mencari ATM (plus ekstra macetnya juga !).

Wis lah, dengan bismillah saya berangkat juga menuju ke lokasi ATM. Sebelumnya saya jelaskan kondisi kami kepada anak-anak. Bahwa ada beberapa kenyamanan berkendaraan yang harus dikorbankan karena kritisnya BBM yg masih tersisa. Si Abang, yang memang sudah sifatnya untuk mengkhawatirkan segala sesuatu, menawarkan solusi ini itu.... "telefon Om Oki aja, Ma. Minta tolong untuk belikan kita bahan bakar".... "Ke SPBU __ aja, Ma. Jalan kesana nggak macet"... "Nanti kita bertiga bisa kuat mendorong sampe ke SPBU nggak ya, Ma... kalau fuelnya gak sampai ke sana".... sampai ke solusi terakhir yang dia sarankan ... "Yuk kita berdoa saja, biar sama Allah dikasih ekstra fuel..."

Langsung deh, dia dengan doa hasil susunannya sendiri meminta kepada Allah supaya kami semua dilindungi dari kemungkinan mendorong mobil sampai ke SPBU....
Saya dalam hati terharu dan tersenyum melihat solusi yang begitu pasrah dan ikhlas yang disodorkan oleh anak saya yang baru beberapa bulan lalu genap berumur 6 thn.

Lain halnya dg Nino....
Begitu abangnya memberi contoh untuk berdoa, dia langsung menadahkan tangannya dan mulai membaca Bismillah..... yang kemudian dilanjutkan dg doa : Allahumma bariklanaa fimaa razaktanaa wa qinaa adzaa bannar.... (bagi yang tidak tahu, itu adalah doa sebelum makan...).
Mendengar doa yang 'salah waktu' itu, spontan saya hampir tertawa. Untung saya masih bisa menahan diri...
Ketika saya lirik (kebetulan dia duduk di kursi depan), saya lihat dia begitu serius dan bersungguh-sungguh dalam berdoa....

Masyaallah.... biarpun hati saya dipenuhi kekhawatiran harus mendorong mobil sampai ke SPBU terdekat, tapi hati saya sungguh bahagia... Terucap sebuah doa kecil di hati saya, semoga mereka bisa menjadi umat Allah SWT yang selalu punya kepasrahan dan keikhlasan seindah ini sepanjang hidup mereka....


note: ketika mendengar doa Nino yang 'salah waktu' tsb, saya teringat renungan Anthony de Mello di Doa Sang Katak yang kurang lebih seperti ini : ketika saya lupa pada kalimat doa yang harus saya ucapkan, biarkanlah saya mengucapkan a-b-c-dst sebagai pengganti doa saya... Saya percaya, Tuhan mengetahui semua doa dan akan bisa menyusunnya untuk saya karena Dia bisa mengingat semua doa yang tidak bisa saya ingat.....
ggrrrhhhh....

Ternyata memindahkan blog tidaklah sesederhana "Ctrl-C" --  Ctrl-V"...
Sudah hampir 5 blog dipindah, lupa nggak cek bagaimana tampilannya, ehhh.... ternyata setelah dilongok lagi, gak muncul.....


Yasud lah....
To be continued kapan-kapan saja lah....

is he the one for me?

first posted on
Dec 2, '09 11:17 AM


Beberapa sore yang lalu,  sembari  bersantai menunggui anak-anak menonton film kartun di tivi, saya iseng bertanya pada suami : “Pa, seandainya kita tidak menikah… kira-kira dengan siapa Papa akan menikah?”

Entah kenapa, tiba-tiba saja terlintas pertanyaan di benak saya, tentang siapa-siapa yg ‘mungkin’ menjadi pasangan hidup kami seandainya kami tidak menikah satu sama lain. Iseng-iseng saya dan suami membuat virtual list masing-masing.
Daftar ‘bekas-kandidat’  suami saya ternyata berisi lebih banyak peserta, sementara daftar ‘bekas-kandidat’ saya nyaris kosong melompong… (he he he, lha memang dari dulu ‘sepi penggemar’ sih…)

Pembicaraan ttg topik tersebut tidak berlangsung panjang, tetapi pikiran saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Memikirkan ttg pasangan hidup, jodoh, keputusan untuk menikah, pilihan untuk hidup sendiri, dll….

Terlintas dalam pikiran saya, apakah pria yang sedang duduk di dekat saya ini adalah jodoh saya? Apakah kami akan ditakdirkan bersama selamanya? Bagaimana kalau ternyata ada aral melintang dalam perjalanan pernikahan kami, apakah dia akan tetap menjadi jodoh saya?

Saya jadi ingat percakapan dg seorang teman tentang jodoh, sepuluh-tahun-lebih yang lalu. Dalam bayangan kami, ketika tidak sengaja kita berpapasan dengan jodoh, kami akan tahu seketika bahwa ‘he is the one’. Orang itu akan terlihat ‘berbeda’ (saya membayangkan dia bakal glow-in-the-dark seperti mainan anak saya… he he he…). Bahwa akan ada perasaan ‘bergetar’ di dalam dada (atau telinga yang berdenging?) ketika bertemu untuk pertama kali dengan seseorang tersebut... :))

He he he, saya tidak mengalami semua itu ketika saya bertemu dengan pria yang akhirnya menjadi suami saya sekarang…. Karena itulah, saya masih terus bertanya-tanya: is he the one?

Yang jelas, setelah tujuh tahun lebih menjalani kehidupan kami bersama, saya hanya bisa berucap alhamdulillah, saya telah memilih dia menjadi pasangan hidup…

Jodoh adalah misteri Illahi. Kita hanyalah makhluk yang menjalani skenario… Yang bisa kita lakukan adalah menjalani sebaik-baiknya kehidupan ini…..

Saya memilih untuk menjadi bahagia (sebuah catatan untuk diri sendiri)

first posted on Oct 28, '09 11:52 AM








Beberapa waktu yang lalu, saya mengalami low-point dalam menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, sebagai baby sitter bagi anak-anak saya, sebagai simbok yang mengurusi kerapihan Ndalem Kemuchtaran, sebagai konco wingking yang menunggui suami pulang dari bekerja….

Merasa bosan karena saya merasa melakukan hal-hal yang tidak berarti. Sering saya berpikir: kalau hanya ‘sekedar’ pekerjaan remeh temeh seperti yang saya sebutkan diatas, wanita mana sih yang tidak bisa melakukannya?

Tidak dibutuhkan seorang lulusan perguruan tinggi bereputasi bagus untuk bisa menunggu suami pulang kerja. Tidak perlu keahlian seorang engineer untuk bisa menjadi koki dirumah. Tidak perlu score TOEFL tinggi untuk bisa mengajak berbicara 2 anak balita dirumah…dan lain sebagainya…dan lain sebagainya….

Don’t get me wrong ya…. Keputusan saya untuk mendedikasikan hidup sebagai ibu rumah tangga, TIDAK PERNAH dan tidak akan pernah saya sesali.

Hanya saja saya sering kebingungan melihat hari tiba2 sudah menjadi malam tanpa saya merasa telah melakukan hal2 yang produktif. Bahkan membaca buku sekedar beberapa halamanpun sering kali terlewat. Bagaimana tidak, dengan mengantar anak-anak tidurpun tidak jarang membuat saya ikut jatuh tertidur. Sampai pagi. Sampai saatnya saya harus melakukan rutinitas yang sama seperti hari kemarin. Dan hari kemarinnya. Dan hari kemarin kemarinnya lagi…..

Kadang terlintas dalam pikiran untuk berhenti sesaat dari segala rutinitas. Mengambil cuti atau hari libur, bepergian ke tempat yang ingin saya kunjungi. Melakukan hal2 yang tidak bisa dilakukan ketika harus momong 2 balita.

Suami saya begitu supportif, dengan segala keterbatasan waktunya dalam ikut mengasuh anak2 kami. Mendukung keinginan saya untuk sesekali ‘mengambil libur’ dari segala rutinitas harian rumah tangga kami. Bahkan tidak jarang, sepulang kerja langsung membawa anak2 keluar untuk main bola atau sekedar jalan2 sekeliling kompleks, membiarkan saya menikmati waktu luang yang mungkin ‘hanya’ tersedia beberapa menit… Bahkan pernah mengusulkan saya untuk travelling sendirian ketika jadwal liburnya tiba….

Usul yang menggoda. Saya suka sekali bepergian. Bagi saya, bepergian seorang diri bukanlah suatu masalah. Bahkan saya cenderung lebih memilih bepergian seorang diri daripada harus melakukannya bersama orang lain yang tidak ‘sealiran’ dengan saya.

Hanya saja,

Saya tidak akan bisa melakukannya. Pikiran saya sudah tersetel untuk selalu bersambungan dengan anak2 saya. Berada jauh dari mereka beberapa jam pun sudah membuat saya dipenuhi banyak pikiran ttg mereka : apakah mereka baik-baik saja... Apakah mereka tidak sedang nakal… Apakah mereka tidak sedang diganggu teman2nya…. Apakah mereka memakan sesuatu yang bisa membuat mereka sakit… Apakah mereka sudah cukup berhati2 ketika sedang bermain kejar2an …. Dan masih banyak ‘apakah’ lain yang bagi banyak orang mungkin sedikit ‘parno’ yang tidak penting…


Jadi,

Apakah kemudian hidup saya berubah menjadi sesuatu yang menyedihkan?

Beruntunglah saya, ketika menanyakan hal itu kepada diri sendiri, saya masih bisa menjawab, tidak. Not even close…!

Bahkan semakin saya memikirkan pertanyaan tersebut, saya semakin malu pada diri sendiri. Malu karena saya kehilangan kemampuan untuk melihat sisi baik dari kehidupan saya sendiri. Malu karena saya melupakan betapa beruntungnya saya mempunyai kehidupan seperti yang saya punya sekarang. Tidak semua orang bisa memilih menjadi apapun yang mereka inginkan, dan saya punya kesempatan itu. Yang harus saya lakukan sekarang adalah menjalani dengan sebaik-baiknya.

Selalu melihat apa yang dimiliki orang lain terkadang membuat kita lupa untuk bersyukur atas apa yang telah kita miliki.

Saya mulai belajar (lagi) melihat segala sesuatunya dari dua sisi. Hal2 yang semula memberatkan saya, yang membuat saya berpikir tidak bahagia dan terbeban, Alhamdulillah mulai berubah….

Alangkah meruginya saya apabila kehilangan waktu yang berharga bersama anak-anak… Waktu tidak akan berputar balik, sebulan saja saya kehilangan waktu bersama anak2, saya tidak akan bisa memutar waktu untuk mengganti kehilangan kebersamaan kami.

Memasak yang sebenarnya selalu menjadi ‘keinginan tersembunyi’ , akhirnya punya jatah waktu dalam daftar kegiatan saya. Suami dan anak2 selalu menjadi sukarelawan yang baik dalam mencicip hasil masakan saya yang lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya…. (untung selalu ada restoran di dekat kami tinggal…he he he). Ditambah lagi, dengan kesadaran saya yang agak terlalu berlebihan akan ‘gizi baik dan kebersihan makanan’ membawa dampak baik bagi kesehatan kami sekeluarga.

Saya lebih dari sekedar konco wingking untuk suami. Karena kebetulan kami pernah bekerja dalam bidang yang sama, banyak topik percakapan bisa sambung menyambung tanpa harus disertai penjelasan yang bertele-tele. Dimana lagi saya punya teman yang bisa ‘klik’ dalam banyak hal kecuali di rumah saya sendiri?

Jadi, temans…

Berpikir positiflah dalam banyak hal….. jangan lupa bersyukur dan selalu bersyukur atas apa yang telah kita miliki…. Hilangkan segala prasangka buruk bahkan terhadap keadaan….

Menjadi bahagia atau tidak bahagia adalah pilihan kita sendiri….. Dan saya telah memilih untuk menjadi bahagia....

Monday, September 3, 2012

Sudah lama sekali tidak link posting ke sini.
Lebih aktif di blog kompetitor, karena waktu itu punya komunitas yg lebih asik disana.... Tapi  seiring berjalannya waktu ternyata blog kompetitor menjadi semakin ribet karena semakin banyak iklan bergentayangan....
Biasa lah... fenomena blog laris.... :)

Jadi, project jangka pendek adalah memindahkan isi blog yg satu kesini....

Harapannya sih, bisa aktif di kedua blog... Toh hanya sekedar klik kotak untuk memperbolehkan tautan....

Saturday, July 14, 2012

Es krim untuk teman-teman

Masih terngiang2 obrolan saya dg seorang anak, finalis Olimpiade Sains Kuark, yang berasal dari daerah 'agak' terpelosok. Si anak, tahun lalu adalah Bronze Medalist dari Level 2 (untuk SD kls 3-4). Kami menginap di penginapan yang sama.
Pagi itu saya dan Abang sarapan pagi sebelum berangkat ke lokasi lomba. Kebetulan si anak tersebut juga sedang menyantap sarapan paginya.
Setelah basa-basi dan obrolan ringan ttg seputar asal sekolah dan kota tempat tinggal, si anak bercerita
Anak (A) : Aku kemarin dapat bronze medal, loh...
Saya (S) : Wahhh, keren... Dapat banyak hadiah dong. Dapat uang juga ya....
(A) : Iya... Dapat uangnya buanyaaakkk sekali.... Aku dapat uang 2 juta...  
Ekspresi wajahnya sulit untuk dideskripsikan, antara kagum dg uang 'buanyaaaakkk sekali' dan bangga diri..
(S) : Trus, uangnya buat apa dong?
(A) : Sama ayahku dipakai buat beli laptop.
(S) : Trus laptopnya buat apa? Buat nge-game ya?
(A) : hehe, iyaa.... 
sambil tersenyum agak malu...

(S) : Trus, sekarang kalau menang lagi, uangnya mau dipakai buat apa? Masa mau beli laptop lagi?
(A) dg suara mantap dan bersemangat : Aku mau beli es krim Di**ond yang pake mangkok (plastik, red.) buat teman-teman satu sekolahku.... Biar teman-temanku semua ngerasain pernah makan es krim...

Saya tercenung sesaat sebelum tersenyum.
Betapa tidak rumitnya pikiran anak-anak. Begitu sederhana pikiran mereka untuk menjadi bahagia dengan membahagiakan teman-teman sekolahnya yang (mungkin) belum pernah makan es krim.
Padahal saya setengah yakin, orang tuanya belum tentu merelakan uang hadiah si anak dipakai untuk mentraktir teman-teman satu sekolah.

Seperti halnya saya, yang sudah pasti akan 'merancangkan', digunakan untuk apa saja uang hadiah, seandainya anak saya berhasil menang.



Notes: ...dan diakhir acara, si anak tersebut meraih medali dan hadiah untuk honorable mention.... Dalam hati saya berharap, semoga orang tuanya menyadari, bahwa selain cerdas akademis, putra mereka juga berpotensi memiliki kecerdasan sosial....

Friday, June 22, 2012

Nasi bungkus di Jalan Malioboro

Tadi pagi saya jalan bareng anak lanang di Jln Malioboro.

Tumben?

Kebetulan memang sedang kepengin beli baju batik buat si Abang. Baju batik yang dia punya somehow sudah mengkeret semua... Sebetulnya kemarin sempat mampir ke salah satu mall di ujung timur kota. Kebetulan di mall itu ada gerai batik berjudul B**** K***s. Tapi demi melihat label harga yang terpasang, urung kami membeli beberapa potong baju..... Gak tega mo ngeluarin duit dari dalam dompet... he he he....
Begitulah....
Akhirnya tadi pagi saya dan Abang bertekad menyisir Malioboro untuk berburu baju batik.
Sesampai di Malioboro, seusai memarkirkan kendaraan di sebelah timur jalan, saya gandeng si Abang untuk menyeberang jalan.

Saat berhenti di zebra cross untuk menyeberang menuju ke sisi barat jalan, tiba-tiba ada mobil pick-up memelankan laju dan menepi. Si Pick Up berhenti di ujung perempatan dekat kami bersiap untuk menyeberang. Dan dalam jeda kurang dari setengah menit banyak orang berhamburan dari tepi2 jalan menghampirinya: bapak tukang becak, pedagang asongan, pengemis, pengamen, bakul kaki lima, simbah2 penjual bawang merah di pinggir jalan....

Saya urung menyeberang jalan. Saya gandeng si Abang ke tempat teduhan sambil memperhatikan kegiatan dadakan yang sedemikian diminati oleh banyak orang tersebut.

Rupanya, ada seorang dermawan yang membagi nasi bungkus cuma-cuma. Kalau melihat jumlah bawaan yg dimuat di bak belakang, saya mengira2 jumlahnya ada ratusan bungkus. 

Sempat saya tertegun heran selama beberapa jenak. Saya tengok kanan kiri disekitar mobil tsb, tidak ada lambang partai, tidak ada wartawan. Bahkan tidak terlihat, siapa si dermawan pembagi rejeki tersebut.

Subhanallah,
pikir saya dalam hati. Ternyata masih ada orang baik di luar sana yang peduli pada sesamanya....

Tanpa pamrih apapun, tanpa publikasi apapun, dan tanpa mengharapkan ucapan terima kasih dari yang menerima pemberiannya.

Tiba-tiba,
si Abang yang saya gandeng, berbisik pada saya: "Mama, besok kalau Abang ulang tahun... Abang mau dirayakan seperti itu ya... Membagi nasi bungkus ke bapak tukang becak dan pengamen di jalan... "
Tak kuasa saya menahan haru....
Ohalah, thole..... betapa Mama bangga padamu, Nak....

Terima kasih Bapak/Ibu dermawan yang membagi2kan rejeki di Jln Malioboro pagi ini. Anda telah memberi contoh nyata kepada saya dan si Abang, akan indahnya berbagi.....

Sunday, March 18, 2012

Pejalan kaki... riwayatmu dulu....

Sudah seminggu ini saya banyak berjalan kaki dan mengandalkan naik bus kota untuk mondar-mandir kesana kemari....

Tumben?


Ada banyak penyebabnya sih....

Yang pertama, mobil yg biasa dipakai anak2 sekolah, pintu belakangnya penyok.. nyok... ditabrak truk waktu berhenti di lampu merah. Sekarang dalam kondisi di opname di bengkel untuk diganti pintu dan bumper belakang. Ya terpaksa lah, si emak ngalah mobilnya dipakai anak2nya...

Yang kedua, sedang tinggi niat untuk melangsingkan badan, nih.... Salah satu upayanya adalah memperbanyak porsi berjalan kaki.

Yang ketiga, pada dasarnya saya adalah pecinta jalan kaki.

Terakhir kali saya berjalan kaki di lingkungan kota Jogja mungkin sudah sekitar 13 tahun-an yang lalu. Itu adalah saat-saat terakhir saya sebagai mahasiswa S1.

Thursday, March 8, 2012

cintaku... oh, kampus biru....


Yuhuuuu.....


Saya kembali ke kampus loh.... kembali bergaul dengan orang-orang di 'luar sana'... kembali mencangklong tas dan menenteng diktat... kembali jajan di kantin yang murmer.... kembali terkantuk-kantuk di dalam ruang kuliah mendengarkan pak profesor mendongengkan rumus2... kembali terengah naik turun tangga 3 lantai... kembali harus berlembur2 ria demi sebuah tugas presentasi....

Bagi beberapa orang mungkin kegembiraan saya adalah sesuatu yg norak, lebay dan tidak perlu...
Tapi, cobalah anda posisikan diri anda di tempat saya...
Enam tahun saya berhenti bergaul dengan ilmu pengetahuan yg begitu saya cintai... enam tahun !

*hi hi hi...nah, kalau yg bagian 'ilmu pengetahuan yg saya cintai' itu memang beneran lebay sih....*

Di minggu pertama masa perkuliahan, saya datang dengan harapan dan cita2 serta semangat setinggi langit.... mau kuliah dan menimba ilmu, gitu loh.... he he he....

Memasuki minggu kedua, semangat agak sedikit mulai surut nih...
Dulu saya pikir, kalau sudah S2, materi kuliah akan lebih mudah dicerna dan dimengerti....
Akan tetapi... ternyata, oh ternyata...

Ditambah lagi dg kenyataan bahwa teman2 di kampus adalah anak2 fresh graduate S1 yang masih benar2 fresh from the oven....
Jadinya, ya gitu deh....tema percakapan sering kali kurang
nyambung... This is the moment where the age difference talks...
Jadilah saya merasa kesepian ditengah keramaian.....

Memasuki masa ujian tengah semester, mulai nih muncul pertanyaan pada diri sendiri: what the heck am I doing here?... Sudah enak dan nyaman dengan kegiatan belanja, masak, bergosip dg ibu2, nonton filem kapanpun mau, lha kok ya mau2nya mencari kesulitan untuk diri sendiri....


Belum lagi kalau pas jadwal suami libur... hadeeeh, tambah keteteran deh membagi waktu...
Well
, bukannya saya tidak suka suami pulang ke rumah... justru karena saking senengnya, pengennya jalan bareng terus.... nonton tipi berdua (anak2 disuruh masuk kamar sorean dong )... membuntut kemana suami pergi...


Alhasil, semua tugas perkuliahan terbengkalai.... frekuensi bolos kuliah semakin tinggi... kuliah gak konsen lagi karena yang dipikirin cuman mo jalan kemana, mo jajan dimana....




Tuesday, April 13, 2010

Di ujung pagi bersama Pak Pulisi....

"Maaf, ada apa ya Pak?" demikian pertanyaan pertama yang dilontarkan suami saya kepada Bapak Aparat kepolisian ketika mobil kami dipersilakan untuk berhenti di bahu jalan, sedikit di luar kota Jombang.

"Saudara tahu tidak, kalau garis marka yang lurus dan tidak terputus yang membatasi jalanan dg bahu jalan itu berarti Saudara tidak boleh berpindah jalur" Pak Aparat menjawab dengan nada tegas, lugas dan jelas...

Suami saya manggut-manggut sembari menahan nyengir keki. Beberapa ratus meter dari tempat mangkal Bapak2 Aparat ini, kami memang mendahului barisan beberapa trailer yang berjalan sekitar 40 km/jam dari sisi sebelah kiri. Salah? Lha ya sudah jelas iya....
Walaupun dalam hati kami agak sedikit mencari pembenaran dari tindakan kami: 'Masa sih, harus merayap 40 km/jam sampai beberapa kilometer berikutnya untuk bisa mendahului... Toh di sisi sebelah kiri kosong melompong gitu loh.....'

Dan karena menyadari memang kami melakukan kesalahan, suami saya terima2 saja diwejang oleh Bapak2 Aparat tadi.
Dan seperti sudah diduga, diujung wejangan singkat tsb, seorang Bapak Aparat yang mungkin bertugas sebagai sekertaris rombongan mengeluarkan segepok slip tanda tilang yang berwarna putih dengan tembusan kuning dan merah jambu.

"Jadi, Saudara mau menitip berapa untuk biaya sidang pelanggaran ini?" seorang Bapak Aparat berkumis tebal langsung bertanya to the point, tanpa tedeng aling-aling, tanpa merasa sungkan...
Kebetulan, terlihat beberapa supir kendaraan (4-5 orang) yang ikut terjaring hampir bersamaan kami mengeluarkan dompet dan masing2 'menyetor' Rp. 50.000 kepada Bapak Aparat bendahara rombongan....

Ke(tidak)betulan, semenjak berangkat dari rumah kami tidak menemukan lokasi ATM dipinggir jalan yg kami lalui. Sementara uang di dompet, kalau dikumpul2kan (beserta beberapa lembar ribuan untuk cadangan ongkos parkir) paling banter hanya Rp. 70 000.
Nah, kalau kami sedekahkan 50rb utk bapak-bapak aparat berkumis itu, bagaimana pula kami harus memberi makan 4 perut dg uang 20rb?

"Kebetulan saya tidak membawa banyak uang, Pak. Sementara saya juga tidak bisa tinggal lama di kota ini untuk ikut sidang. Saya minta slip biru saja supaya bisa membayar denda di BRI.." jawab suami saya.

Kok ya pas banget, beberapa hari ini kami sering mendiskusikan ttg slip biru yang memudahkan para 'tertilang' dan mengurangi kesempatan para polisi nakal untuk memancing di air keruh....

Eh, lha kok nggak disangka... Bapak Aparat yang menyuruh suami saya minggir tadi malah marah... Seorang aparat yang lain ikutan pula nimbrung memojokkan suami saya, menegaskan bahwa dia saksi dari pelanggaran ini. Kalo suami saya gak terima ditilang, boleh melaporkan nama dia ke kantor, sambil menuding2 name-tag di dadanya...

"Nih, catat nama saya ! Laporkan ke kantor polisi sana kalau Saudara gak terima ! Saya gak takut !"

Loh...loh....

Piye toh, Pak Pulisi....
Lha wong suami saya sudah jelas mengaku bersalah karena melanggar marka... sudah mau menerima ditilang.... cuman memang minta slip biru supaya gampang bagi kami....

Lah, dasar suami saya juga....
Gak terima dia dibentak2 sambil ditarik2 lengannya kesana kemari kayak bgitu... Ikut ngotot juga dia.....

Saya di mobil bersama anak-anak cuman bisa kuwatir sambil harap2 cemas... "Mbok ya sudah toh, Pakne..." kata saya dalam hati saya sambil tetap mengawasi diskusi yang kelihatannya sudah dikuasai emosi....

Untung ketua rombongan Pak Bos Aparat Kepulisian yang selama itu hanya duduk manis di tempat teduhan turun tangan dan melerai...

"Mas, kalau di sini kami tidak menyediakan slip biru.... Pembayaran disini masih belum online kayak di kota Mas sana.... Ini kan kota kecil, Mas... Sudah, Mas boleh pergi lagi. Ini SIM dan STNKnya..."

Loh, kok nyuruh perginya gampang banget gitu.... Gak sinkron sama pertunjukan marah2 sebelumnya?

Ohalah, setelah diamati, kami baru maklum.... Kalau mereka berhenti terlalu lama pada satu kasus yang gak jelas bisa menghasilkan duit atau tidak, momen yang ada (para mobil yang melanggar marka, red.) bakal banyak yang terlewat.... yang berarti terlewat juga 50rb x __ mobil, yang (bisa) berarti gak bisa ajak anak istri shopping akhir minggu besok....

Dan tetes pertama hujan yang menemani perjalanan panjang kami hari itupun turun.
Bergegas kami meninggalkan Bapak-Bapak Aparat Kepolisian penuh dedikasi yang tetap bertugas ditengah rintik hujan demi ketertiban dan kenyamanan para pemakai jalan....

Sekelumit wajah polisi bangsaku.....

Friday, October 9, 2009

Naseeebb....

Dalam perjalanan pulang ke rumah, kami mampir sebentar ke gerai roti di dekat rumah, membeli bekal sarapan untuk beberapa hari kedepan. Karena anak2 masih mengantuk, dan demi praktisnya, akhirnya cuma saya yang turun dari mobil sementara si Papa menunggui anak2.

Karena sudah hafal letak barang yang dicari, gak sampai 5 mnt saya sudah berdiri di depan kasir lengkap dengan beberapa tentengan untuk dibayar.
K : Good evening....
S : Hello... Good ev'ning... (sambil saya agak mikir, kok gak pake embel2 Madam. Biasanya kalo saya ke toko ada tambahan sapaan 'Madam')
K : Phillipino?
S : Nope... (hhh.... cape de....)
K : Indonesia?
S : Yup.... (asli, saya sudah menampakkan wajah enggan berkomunikasi. Lha wong belum2 sudah dituduh orang Phillipina....)
K (masih berusaha sok akrab yang menyebalkan) : Working in Kuwaiti house?
S : Sorry?? (agak belum nyambung apa maksudnya...)
K : Your boss. Is he Kuwaiti? Are you working in Kuwaiti House?
S (anjriiitttt....... sumpah serapah saya dalam hati..... Pasti tampang saya sudah aneh bin ajaib karena nahan marah dan keki ) : Nope. I'm here for vacation...
K (wajahnya heran agak gak percaya) : ... ?
S : I'm visiting my husband...
K : Ooohh.... that's good... (wajah tidak percayanya benar2 mengundang saya tidak hanya sekedar bersumpah serapah, tapi pengen nonjok juga....)

Naseeebbbb........


Suami saya ketawa berkepanjangan ketika saya ceritain apa yang terjadi di dalam toko.
Tapi benar juga saran dia, gak ada gunanya pulang dalam keadaan keki seperti itu. Yang terbaik adalah, meluangkan waktu lebih lama di toko itu, menerangkan kepada si kasir dengan tanpa marah bahwa tidak semua orang Indonesia (perempuan dan berjilbab) yang dia temui adalah pembantu rumah tangga di rumah orang Kuwait..... Itung2 mendidik orang2 di sini untuk berpikir lebih panjang.... :((

Wednesday, February 25, 2009

What a weekend... (2)

……(saya sebenarnya punya pending cucian seember di belakang sana. Cuman, mumpung lagi pengen nulis, saya tinggal dulu deh. Siapa tahu sekarang lebih lancar daripada kemarin….)

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, hari Sabtu malam kami mengadakan pengajian di rumah. Jamaah yang hadir adalah tetangga se-RT. Jangan berpikir dengan konsep yang salah, bahwa warga RT di tempat tinggal saya adalah komunitas monoagamis. RT kami adalah komunitas sekuler dengan berbagai macam keyakinan yang dipeluk oleh warga, yang juga berasal dari banyak suku dan ras.

Malam itu hampir semua kepala keluarga yang tidak berhalangan, menghadiri acara pengajian di rumah kami. Itulah indahnya kerukunan umat beragama di RT tempat saya dibesarkan dulu. Anyway....

Seusai acara pengajian, tampaklah permasalahan baru bagi saya.

Rumah kami di Temanggung hanya punya 3 kamar dan 1 ekstra single-bed. Sementara ada mertua adik saya (bapak dan ibu), kakak ipar adik saya, Om adik saya, mertua saya (bapak dan ibu), saya cs (bersama 2 krucil), adik saya dan istrinya.

Ada hotel kecil di kota kami, tapi adat di kota kecil seperti Temanggung, tidaklah sopan untuk mengirim tamu ke hotel.

Setelah berpikir sambil mereka-reka siapa tidur dimana, dan juga meminta pertolongan tetangga dekat yang punya kamar ekstra, akhirnya permasalahan berhasil diselesaikan. Semua tamu diakomodir untuk tidur dirumah kami. Sementara saya dan anak-anak mengungsi ke rumah tetangga.

Karena jam tidur anak-anak sudah sedikit terlewati, saya segera mengusung mereka menuju ke kamar 'baru' kami. Nino sudah terlelap semenjak pengajian belum berakhir, karena sore harinya sibuk membantu menarik-narik tikar untuk pengajian. Daffa agak terbatuk-batuk, tapi saya sudah siap2 dengan perbekalan lengkap : kaos kaki, jaket tebal dan selimut ekstra. Maklumlah, setelah digujur hujan yang cukup lebat, udara Temanggung yang terletak di lereng Gng Sumbing, berasa dingin menusuk tulang.

Satu jam di tempat tidur, batuk Daffa semakin bertambah intensitas dan frekuensinya. Saya tambah 'pembungkus' badannya, juga olesan minyak kayu putih di dada dan punggung. Satu jam berselang, bukan cuma batuk yang sekarang dialami Daffa. Nafasnya jadi terdengar berat dan berbunyi ngik-ngok. Haduhh... saya mulai was-was, bengek Daffa bakalan kambuh malam ini.

Saya masih juga berpikir bahwa udara dinginlah yang jadi penyebab utama batuk dan sesak nafas Daffa. Pembungkus badan Daffa saya perbanyak lagi dengan menambah penutup telinga. Tapi the show still went on. Sampai saya suruh Daffa tidur sambil mengulum permen pelega tenggorokan untuk mengurangi batuk dan melonggarkan pernafasan.

Tidak berapa lama, Daffa mengeluh kepanasan. Gak heran sih, mengingat berlapis2 pembungkus yang menempel di badan kecilnya. Saya sabar2kan dia untuk tetap memakai semua kostum itu.

Menjelang subuh, tidak seorangpun diantara kami berdua yang memejamkan mata dan terlelap. Saya khawatir sekali kalau sesak nafasnya semakin menghebat dan saluran nafasnya benar2 tersumbat. Jadi, tarikan nafas Daffa benar2 saya perhatikan.

Bersamaan dengan terdengarnya adzan subuh, saya baru memikirkan kemungkinan lain. Kasur yang kami tiduri adalah kasur kapuk. Selama ini Daffa jarang sekali tidur di kasur kapuk. Dan debu kapuk adalah salah satu pencetus alergi bagi penderita asma.

Lalu salah satu selimut yang saya pakai untuk membungkus tubuh Daffa saya buka, kemudian saya fungsikan jadi seprei tambahan.

Akhirnya batuknya mereda, sesak nafasnya tidak bertambah parah, dan dia bisa tertidur selama kurleb 2 jam.

……(nah, sudah saatnya saya kembali ke tugas utama saya: kucek mengkucek cucian di kamar mandi belakang. Insyaallah, to be continued besok….)