Thursday, January 17, 2008

Menunggu Kematian Paman Gober

Sang Presiden BBM, Si Butet Yogya tampil membacakan cerita pendek pada penyerahan Federasi Teater Indonesia (FTI) Award 2007 di teater studio, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (9/1/08) malam. Kisah ttg Paman Gober yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma pada tahun 1994.

Kematian Paman Gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal: apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "Oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu."
Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah memberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik, dan Kwek, hampir selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hampir selalu diakalinya.


Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Paman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.


Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, adalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?


"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek.

Dasar bebek.


Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.


Semua bebek memang menunggu kematian Paman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, dan membangun mausoleum (ket: kompleks kuburan megah) di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terlalu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetangga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Paman mau menyembelih sesama bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televisi. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan.

Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Paman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

Wednesday, January 9, 2008

si Abang sudah besar

Biasanya, kalau saya sedang kumat gemesnya sama anak-anak, yang saya lakukan adalah mengacau rambut mereka trus mencium2 kepala. Biasanya berlanjut dengan kitik-kitik sedikit, trus berakhir dengan tertawa.

Tadi pagi, setelah mandi pagi dan sebelum sarapan, saya iseng lewat dibelakang abang. Ketika sekilas melihat rambut ikalnya, mendadak muncul gemes saya. Langsung aja saya kacau2 rambutnya sambil saya ciumi kepalanya. Ehhh... tidak seperti biasanya, kali ini komentarnya sudah berbeda.

"Jangan dong, Mama. Nanti Abang nggak ganteng lagi !" sambil menarik kepalanya menjauhi saya.

Waakksss.... anakku sudah nggak mau lagi disayang-sayang sama mamanya... Hu hu hu, sedih deh...

pengalaman menakutkan

I just got a thrilling experience this evening. Sore ini saya harus belanja beberapa barang logistik rumah untuk persediaan beberapa hari, karena hari besok mobil mau diambil oleh si empunya . Jadi, saya berangkat sekitar jam 19:30-an dari rumah menuju ke Amplaz (Ambarukmo Plaza, red.) sendirian. Sampai di pintu parkir, kecepatan mobil harus melambat karena antrean untuk masuk ke area parkir cukup panjang. Seperti biasa, saya memilih parkir di lower ground karena alasan familiar dan gampang. Begitu sampai pada kelokan pertama, mobil saya tidak boleh masuk karena sudah penuh (padahal mobil didepan saya persis, masih bisa masuk loh...). Jadi, saya diharuskan untuk naik ke lantai berikutnya.

Nah, disinilah bagian yang menakutkan itu dimulai. Mungkin bagi orang lain, naik ke lantai atas areal parkir adalah hal yang biasa. Tapi definitely tidak bagi saya. Yang pertama, saya mantan phobia ketinggian. Well, mungkin bukan benar2 phobia yang parah, tapi kalau saya berada di ketinggian lebih dari 2 kali tinggi badan saya dengan luasan bidang injak yang tidak terlalu lebar, langsung deh rasa lemas pada kaki dan mual pada perut mulai beraksi. Thing went better setelah beberapa lama saya bekerja sebagai engineer logging, dimana salah satu bagian dari pekerjaan saya adalah naik turun rig dengan tinggi bervariasi. Tapi, ketika saya kembali lagi ke dunia yang beradab* rasanya phobia itu kembali lagi.

Yang kedua, dalam setahun ini sudah ada 2 cerita pagar alur parkir ditabrak mobil di salah satu pusat pertokoan di Jakarta. Kejadian yang pertama membawa korban satu keluarga yang terdiri dari 3 orang (atau 4 ya?) meninggal. Dan berita itu mempertegas keengganan saya untuk parkir terlalu jauh dari permukaan tanah.

Dengan berbekal dua alasan tersebut, saya jelas tidak akan memilih parkir lebih tinggi dari 2 level. Tapi apa daya, malam ini adalah malam libur. Sedangkan besok, saya sudah akan tidak punya mobil lagi. Sementara saya masih harus beberapa hari menghidupi anak-anak saya (sebuah cara pengungkapan yang cukup dramatis yak...). Jadi, saya bulatkan tekad dan memantapkan hati untuk menerjang segala rintangan. Halah....

Level pertama lewat dengan lancar, karena kebetulan beberapa hari yang lalu saya sempat tidak kebagian parkir juga di lower ground, jadi mau tidak mau harus juga naik ke atas. So, bisa dikatakan saya sudah 'berlatih' untuk level ground floor. Dan, tetap tidak ada tempat kosong di level ini. Terpaksa deh naik lagi ke lantai berikutnya. Hasilnya? Penuh..nuh...nuh... Dengan hati berat, saya naik ke level selanjutnya: 1st floor. Penuh lagi....

Sudah kecut hati saya. Biarpun AC didalam mobil sudah terpasang cukup dingin, tetap saja keringat mulai menetes. Karena sudah naik cukup jauh, saya tekadkan untuk tetap mencari parkiran kosong. Sambil membayangkan diapers dirumah habis, sereal habis, sabun mandi tinggal sedikit.... Di atas 1st floor, ternyata bukan 2nd floor, tetapi mezziani floor. Dan, shoot...!! ternyata disitu tidak dibuka untuk parkir. Berarti saya tetep harus naik ke level selanjutnya.

Kaki sudah berasa menolak untuk mematuhi perintah. Tapi akal sehat saya menyuruh untuk tetap terus. Come on, you've been this far... Jadilah saya naik ke 2nd floor. Dan, sekali lagi tempat itu tidak dibuka untuk area parkir. Oke, saya akan naik sekali lagi, but I promised myself, this will be my last attempt for parking space. Otak saya sudah tidak terlalu bisa berpikir jernih. Kaki sudah setengah menolak untuk bekerja sama dengan baik. Dada saya deg-degan hebat, keringat dingin sudah membasahi punggung.

Akhirnya saya sampai di 2nd floor mezziani. Dan.... kebagian last space di lantai itu untuk memarkir mobil saya. Fiuuu.....

Wednesday, December 26, 2007

The future lost city..???

Kemarin dulu, waktu di Sidoarjo, saya sempatkan mampir ke lumpur panas pond. Biarpun saya sudah beberapa kali mudik semenjak pertama munculnya lumpur panas, tapi nggak pernah dengan sengaja berhenti dan melongok ke dalam tanggul. Soalnya melihat Jl. Raya Porong yang semacet itu berasa malas aja mo minggir. Padahal setiap pulang ke Sidoarjo kami pasti melewati genangan lumpur tersebut, lha wong mbakyu dan mas ipar saya kan tinggal di Pasuruan, jadi pasti lah ada acara lewat Jln Raya Porong kalau mau silaturahmi kesana.

Yang kepingin melihat lumpur panas kemarin itu sebenarnya si Embak. Si embak ini memang sengaja saya ajak ikut mudik dalam rangka mengasisteni saya dalam menjaga anak-anak selama perjalanan. Soalnya bisa dibilang, it was my longest driving ever. Nah, biar dia komplit senengnya, saya turutin aja kemauannya untuk melihat lumpur panas. Itung-itung saya juga sekalian melihat yang belum pernah saya lihat.

Diatas tanggul pond di tepi Jalan Raya Porong itu saya benar-benar terkesima. Jejak tiga kecamatan yang tergenang lumpur tersebut hampir tidak kelihatan lagi. Sejauh mata memandang, di dalam tanggul nyaris hanya terlihat genangan air dan asap yang mengepul dari pusat semburan terbesar. Masih terlihat sisa bubungan atap 3-4 rumah, lengkap dengan genting2nya. Sementara itu banyak apungan 'sisa-sisa peradaban'. Ada cushion sofa, bantal, sandal jepit, bahkan terlihat badan gerobak dari kayu. Abang tidak henti-hentinya berkomentar: "Kasihan ya, Ma, orang-orang yang dulu tinggal disini. Mereka kan jadi tidak punya rumah lagi".

Saya jadi mikir jauh. Teringat pada kisah sebuah kota yang tertimbun abu hasil letusan gunung api Vesuvius di Italia sana: Pompeii. Kota yang akhirnya 'ditemukan' kembali 1600 tahun kemudian. (Bagi yang belum pernah mendengar ttg sejarah ini, bisa sedikit membacanya di sini.)

Trus saya jadi menyambungkan kemungkinan-kemungkinan yang bermunculan dalam kepala saya. Mungkin nggak ya.... Suatu ketika nanti, entah berapa ribu tahun (atau puluhan ribu tahun) dari sekarang, ada penggalian situs purbakala yang menemukan sebuah peradaban yang dinyatakan hilang. Yang ternyata adalah Kecamatan Porong dan sekitarnya. Hi hi hi, trus sempat juga saya kepikir iseng mo ninggalin sendal jepit plastik yang sudah digrafir nama saya. Siapa tahu saat itu sandal tersebut masih ada dan termasuk dalam salah satu temuan bersejarah. He he he, berkhayal.com.

Sayang saya tidak bisa memotret-motret pond tersebut. Tangan saya sibuk memegangi Abang dari kemungkinan terserempet truk-truk yang memuat tanah untuk mempertinggi tanggul. Tapi hebat loh, kejadian yang seharusnya sudah dikategorikan sebagai bencana nasional tersebut, oleh beberapa orang bisa dieksploitasi sebagai sumber penghasilan. Bayangpun deh, parkir mobil di pinggir jalan tarifnya 5000 rupiah. Mau naik ke tanggul (yang sebenarnya tidak diperbolehkan dengan alasan keamanan), kalau sedang sepi pengunjung, satu orang dikenai tarif 3000 rupiah.

Friday, December 14, 2007

Eid Mubarak !

May His love and protection give you peace and happiness and lead you to bliss on Eid and always.. Eid Mubarak !!

Berhubung saya mau pulkam ke Sidoarjo dalam rangka merayakan Idul Adha, posting bakal libur dulu.

Bus Patas Trans-Jogja

Peluncuran bus patas Trans-Jogja yang semula direncanakan bulan Desember diundur menjadi Januari 2008. Sebab, sampai sekarang perjanjian kerja sama operasionalisasi bus antara Pemerintah Provinsi DIY dan PT Jogja Tugu Trans sebagai operator, belum juga disetujui DPRD DIY.

"Kami memutuskan menunda peluncuran bus Trans-Jogja menjadi Januari karena sampai sekarang persetujuan dari dewan (DPRD) untuk legalitas pelaksanaan belum turun," ucap Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DI Yogyakarta Mulyadi Hadikusumo, Rabu (28/11), di Yogyakarta.

Mulyadi mengutarakan, perjanjian kerja sama operasionalisasi bus Trans-Jogja antara Pemprov DIY dan PT Jogja Tugu Trans (PT JTT) merupakan landasan legal formal operasionalisasi bus patas. PT JTT merupakan konsorsium beberapa koperasi angkutan di Yogyakarta. "Kami masih menunggu keputusan dewan, kalau persetujuan kerja sama itu bisa cepat, Januari bisa diluncurkan. Namun, kalau ternyata masih lama, kemungkinan juga akan tertunda lagi," katanya.

Di sisi lain, lanjut Mulyadi, pembangungan shelter atau halte Trans-Jogja terus dikebut. Sebanyak 42 halte yang menjadi tanggung jawab Pemprov DIY mencapai tahap pekerjaan 50 persen. Halte yang dibuat memiliki ukuran bervariasi, mulai 1,5 meter x 6 meter, hingga 2 meter x 8 meter, tergantung lokasi dan kecukupan luas lahan yang hendak dipakai.

"Kalau halte dan pengerjaan prasarana lainnya sebenarnya tidak ada masalah karena prosesnya masih terus berlanjut. Halte yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Yogyakarta juga masih terus dikerjakan," tutur Mulyadi.

Secara terpisah, Wakil Ketua DPRD DIY Gandung Pardiman menuturkan keterlambatan turunnya persetujuan kerja sama dari DPRD DIY bukan karena DPRD DIY bertele-tele dalam pembahasan. Namun, karena memegang prinsip kehati-hatian.

"Kami tidak mau terburu-buru dan tidak ingin terjadi kesalahan yang berpotensi menimbulkan kasus hukum di kemudian hari. Kita belajar dari proyek CDMA (code division multiple access), persetujuan sudah diberikan tetapi pelaksanaan proyek tidak jelas," ungkapnya.

Prosedur yang benar

DPRD DIY, lanjut Gandung, telah membentuk panitia khusus bus patas agar pembahasan draf kerja sama bisa segera diselesaikan. "Pansus masih terus bekerja. Keterlambatan ini bukan karena DPRD. Dulu dalam draf kerja sama yang diajukan oleh eksekutif disebutkan kerja sama itu antara pemprov dengan PT 'X', tidak disebutkan secara jelas PT-nya apa. Nah, itukan membingungkan. Sekarang drafnya sudah diperbaiki dengan disebutkan PT Jogja Tugu Trans," katanya.

Menurut Gandung, proses pembahasan kini telah mencapai tahap finalisasi dan diharapkan bisa selesai Desember. "Bagi kami, bus patas Trans-Jogja itu diluncurkan Januari atau Februari 2008 tidak apa-apa. Yang penting seluruh prosedur dilalui dengan benar," ucapnya.

Proyek bus Trans-Jogja di DIY mengadopsi sistem bus Transjakarta. Bedanya, bus Trans-Jogja memakai bus ukuran sedang dan tidak memakai jalur khusus seperti Transjakarta, tetapi bercampur dengan kendaraan lain karena keterbatasan lebar jalan. Bus Trans- Jogja hanya akan berhenti di halte-halte khusus yang sudah disiapkan, yaitu 76 halte. (Dipetik dari Kompas Online, Kamis 29 Desember 2007)

Tuesday, December 11, 2007

Premium, Pertamax, Premix dkk

Masalah klasik di negeri ini semenjak saya kecil sampe setua sekarang tidak juga banyak berubah, masih tentang BBM dan BBM. Sekarang yang sedang tren dibahas adalah rencana pembatasan subsidi pemerintah (lagi) terhadap BBM jenis Premium. Rencananya, Premium Oktan-88, yang selama ini banyak beredar dan lazim digunakan oleh semua mesin berbahan bakar bensin bakal digantikan oleh Pertamax. Premium masih akan beredar, tetapi dengan nilai oktan yang lebih tinggi, yaitu Premium Oktan-90.

Bagi yang tidak terlalu berkecimpung dalam bidang per-BBM-an, mungkin perlu sedikit diberi keterangan bahwa ketiga 'barang' tersebut diatas dalam bahasa awam Indonesia adalah bensin. Yang membedakan ketiganya adalah kadar oktan yang berbanding lurus dengan efisiensi pembakaran dalam hal fungsinya sebagai bahan bakar. Premium memiliki kadar oktan terendah diantara ketiga varian bensin diatas. kadar oktan premium : dibawah 90 % ( kurang lebih ); kadar oktan pertamax : 92 %; kadar oktan premix : 94 %.

Nah, secara gamblang bisa dilihat bahwa harga Pertamax dan Premix jelas lebih mahal dari harga Premium. Lalu, kalau sama-sama bensin kenapa pula harus membeli yang lebih mahal? Dilihat dari alasan pemakaian saya mengkategorikan orang menjadi beberapa kelompok

  1. Orang yang wealthy. Kadang orang tidak punya alasan lain untuk membeli Pertamax selain bahwa dirinya cukup kaya dan selalu membeli yang termahal, regarless the quality of the good (ini saya ndak bilang kalo Pertamax tidak berkualitas bagus loh ya...)
  2. Orang yang sayang pada mobilnya (atau motornya, atau mesin apapun itu yang berbahan bakar bensin). Dengan menggunakan Pertamax, mesin lebih awet karena pembakaran lebih sempurna dan juga lebih halus karena gejala knocking bisa ditekan (terutama pada mesin dengan kompresi tinggi)
  3. Orang yang cukup peduli lingkungan. Nah, salah satu kelebihan Pertamax adalah bebas timbal alias Plumbum (Pb). Unsur Pb ini bersifat racun dan menurut penelitian bisa menurunkan daya ingat otak. Yang jelas, si Abang anak sulung saya, alergi segala sesuatu yang mengandung logam berat.
  4. Orang yang peduli sosial. Salah satu alasan abang saya memakai Pertamax, kecuali dia sangat sayang pada mobil barunya, adalah bahwa Pertamax mendapat less subsidi dari pemerintah dibandingkan Premium. Dia berpikir, kalau dia membeli Pertamax, paling tidak alokasi subsidi pemerintah bisa sedikit berkurang dan bisa digunakan untuk hal-hal lain untuk kemaslahatan bersama.

Kalau saya? Yah, saya sih mikir yang gampang saja. SPBU yang menyediakan Pertamax relatif tidak banyak, sementara semua SPBU pasti menjual Premium. Kalau saya selalu berada di kota besar, mungkin saya memutuskan akan memakai Pertamax untuk mobil saya. Tapi berhubung saya mobile dari desa ke kota dan balik lagi ke desa, ya sudah, Premium adalah kebijakan yang memudahkan hidup.

Tapi saya setuju sekali dengan kebijakan pemerintah untuk mengganti Premium dengan Pertamax. Banyak yang mengeluh ttg beratnya biaya operasional yang bakal dipikul oleh pemilik mobil dan motor kalau kebijakan itu benar2 dilaksanakan. Bagi saya, itu malah bagus. Dengan melihat semakin semrawutnya jalanan di kebanyakan kota besar di Indonesia sekarang ini yang disebabkan oleh semakin banyaknya kendaraan (yang layak jalan maupun yang kurang layak jalan). Dan juga semakin pekatnya asap2 kendaraan bermotor mempolusi udara. Ada bagusnya juga jumlah kendaraan bermotor sedikit dikurangi. Maksudnya, kalau memang tidak sanggup menanggung biaya operasional kendaraan bermotor, ya sudah, jangan beli mobil atau motor.

Tapi ya itu, harusnya pemerintah juga lebih tanggap dengan permasalahan yang bakal timbul. Setidaknya sarana transportasi umum yang sudah ada sekarang ini diperbaiki dan lebih di'layak' jalankan. Bis-bis kota yang sudah karatan dan bolong-bolong gitu, sebaiknya dipensiunkan. Jalan raya dirapikan dan ditertibkan dari para pedagang kakilima. Trotoar untuk para pejalan kaki dibenahi.

Hmmm... jadi mikir nih. Kalau masih akan tinggal di Indonesia jadi pengen beli sepeda kayuh untuk sekeluarga...