Wednesday, April 30, 2008

Menghitung hari

Menghitung hari
Detik demi detik
Masa ku nanti apa kan ada
Jalan cerita kisah yang panjang
Menghitung hari...

He he he.... saya sedang menghitung hari nih. Counting down, day by day. Dan semakin dekat harinya, semakin deg-degan.

Yak, saya mau pulkam ke Endonesah tertjintah bersama dua koboi kecil saya. Si Papa ditinggal disini, soalnya gak dikasih libur sama Pak Boss (lha emang nggak minta sih). Lagi pula pekerjaan menumpuk, menunggu untuk ‘disentuh’.

Pertanyaan banyak orang: apa sanggup membawa dua koboi ini melintasi jarak yang hampir 8000 km dengan waktu tempuh hampir 24 jam untuk sampai di rumah?

Jaman dulu, waktu saya masih sering travelling lintas negara lintas benua, saya pernah berbarengan satu pesawat dengan seorang ibu muda yang membawa dua anak balitanya, dari Jakarta ke Amsterdam. Hebatnya lagi, si ibu itu tidak ditemani siapapun juga kecuali kedua anaknya. Saya masih ingat jelas, betapa terkagum2nya saya. Si kecil digendong didepan dengan gendongan ransel, sementara si besar di dudukkan di dalam strollernya. Sementara sebuah backpack tersandang dipunggungnya. Dalam hati saya bilang: “that’s what I called supermom”.

Banyak yang bilang saya adalah supermom ketika masih jadi tukang insinyur dulu. Tapi bagi saya, ibu muda itulah the real supermom. Jadi, semenjak itu, saya selalu membayangkan bahwa saya sendirian bepergian dengan membawa kedua anak balita saya.

Hubby sempat terbengong tidak percaya dengan ide saya pulang ke Indonesia tanpa ditemani. Terbayang bandara Dubai Intl yang begitu penuh orang dan padat. Masih teringat ulah dua koboi kami ketika berangkat kemarin yang menelusup2 diantara antrian sebegitu banyak orang. Belum lagi, masih harus pindah pesawat. Trus nanti kalo yang satu minta diantar ke toilet sementara yang lain tidak mau ditinggal?

Dan saya jawab: Itulah tantangannya....

Tuesday, April 29, 2008

Mengurangi jumlah abjad pada bahasa Indonesia

Abjad yang digunakan di dalam bahasa Indonesia berjumlah 26. Ke-26 abjad tersebut rasanya masih terlalu banyak, dan lagipula ada beberapa abjad yang jarang sekali digunakan.Oleh karena itu mari kita sederhanakan abjad-abjad tersebut dan menyesuaikan dengan kata-kata yang kita gunakan.

Pertama-tama, huruf X, kita ganti dengan gabungan huruf K dan S.
Kebetulan hampir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia asli yang menggunakan huruf ini, kebanyakan merupakan kata serapan dari bahasa asing. Misalnya taxi menjadi taksi, maximal menjadi maksimal, dst.

Selanjutnya, huruf Q kita ganti dengan KW. Serupa dengan X, kata2 yang mengunakan huruf ini juga sangat sedikit sekali.

Berikutnya, huruf Z. Huruf Z kita ganti menjadi C. Tidak ada alasan kuat tentang hal ini.

Huruf Y diganti dengan I. Hal ini dilakukan sebab bunii huruf tersebut mirip dengan I.
Kemudian huruf F dan V keduania diganti menjadi P. Pada lepel ini masih belum terjadi perubahan iang signipikan.

Hurup W kemudian diganti menjadi hurup U. Berarti sampai saat ini kita sudah mengeliminasi 7 hurup.

Hurup iang bisa kita eliminasi lagi adalah R, mengingat baniak orang iang kesulitan meniebutkan hurup tersebut. R kita ganti dengan L.

Selanjutnia, gabungan hulup KH diganti menjadi H.

Iang paling belpengaluh adalah hulup S iang diganti menjadi C.

Hulup G juga diganti menjadi K.

Dan hulup J juga diganti menjadi C.

Caia laca cudah cukup untuk hulup-hulup konconannia. Cekalank kita kanti hulup pokalnia.

Cuma ada limahulup pokal, A, I , U, E, O.

Kita akan eliminaci dua hulup pokal. Hulup I mencadi dua hulup E iaitu EE.

Cementala hulup U mencadee dua hulup O iaitoo OO.

Cadi, campe cekalank, keeta belhaceel menkulangee hooloop-hooloop keeta.

Kalaoo keeta tooleeckan lagee, hooloop-hooloop eeang telceeca adalah:

A, B, C, D, E, H, K, L, M, N, O, P, T.

Haneea ada 12 belac hooloop!! Looal beeaca bookan?? Padahal cebeloomneea keeta pooneea 26 hooloop.

Eenee adalah penemooan eeang cankat penteenk dan cikneepeekan! !

Co, ceelahkan keeleemkan tooleecan anda denkan menkkoonakan dooa belac hooloop telceboot.

Calam,

sumber : salah satu posting di milis Kapal ITS

Saturday, April 26, 2008

Besok gede mau jadi apa...(Part 1)

Susan...Susan...Susan...

Besok gede mau jadi apa....

Aku kepengen pinter....

biar jadi dokter...

kalau kamu jadi dokter...

kamu mau apa...

aku kepengen suntik orang lewat...

Mungkin masih ada yang ingat, cuplikan diatas adalah sepenggal syair lagu yang dinyanyikan oleh Ria Enes dan bonekanya: Susan, awal tahun 90-an dulu.

Waktu itu saya sudah duduk di kelas 3 SMP. Sudah bisa memprotes pandangan umum ttg korelasi kalimat yang tersirat didalam lagu tersebut: kalau jadi dokter berarti pintar; yang apabila dicari kalimat ingkar-nya menjadi: tidak menjadi dokter berarti tidak pintar...

Jaman saya masih TK dulu (sampai mungkin kelas 3 SD), 95% anak2 kecil teman sebaya saya, kalau ditanya orang ttg apa cita-cita kalau besar nanti pasti jawaban yang keluar adalah: mau jadi dokter ! Heran deh, kok bisa kompak seperti itu. Apakah karena profesi dokter adalah profesi yang benar-benar populer dikalangan kanak-kanak (mungkin karena seringnya mereka sakit dan dibawa kedokter), ataukah karena brainwash para orang tua kepada anak-anaknya.

Kemungkinan pertama rasanya tidak terlalu tepat. Mengingat saya melewatkan masa kecil saya di sebuah kota kecil di awal thn 80-an, dimana kesadaran orang tua membawa anaknya yang sakit ke dokter masih belum begitu tinggi. Apalagi kalau ‘cuman’ sekedar sakit batuk pilek, biasanya akan diobati sendiri dengan menggunakan ramuan tradisional: jeruk nipis+kecap, atau makan rimpang kencur (Kaempferia galanga L.). Atau membeli obat yang dijual bebas di warung.

Jadi, kemungkinan kedua-kah penyebabnya?

Hmmm.... saya (pada waktu itu) juga termasuk anak2 yang spontan akan menjawab: mau jadi dokter, ketika seseorang menanyakan cita-cita saya. Padahal, orang tua saya tidak pernah sekalipun mendikte mau jadi apa anak-anaknya kelak. Pesan orang tua yang selalu digemakan setiap hari hanyalah: jadilah anak pintar ! Orangtua kalian tidak bisa meninggalkan harta benda yang berarti, hanya ilmu yang bisa dibekalkan sebagai alat kalian merubah nasib menjadi lebih baik...

Saya malah masih ingat, terkadang rasan-rasan dengan (alm.) bapak saya: kapan ya saya bisa ke Amerika... Dan jawaban bapak saya selalu sama: mulakno sekolaho sing pinter ben iso tekan Amerika.... (makanya sekolahlah yang pinter biar bisa sampai Amerika...). Dan ketika betul saya bisa sampai Amerika, rasanya jawaban Bapak tersebut terus terngiang di dalam kepala.

Anyway, balik lagi ke masalah cita-cita massal anak-anak sebaya saya pd era thn 80-an yang ingin jadi dokter. Mungkin penyebabnya adalah latah semata. Soalnya, dunia profesi ‘keren’ yang dikenal hanyalah dokter. Jadi, lepas dari benar-benar ada keinginan untuk jadi dokter atau tidak, daripada repot mikir kalo ditanya mendingan ngikut aja jawaban teman2 yang lain. Toh jadi dokter jelas terdengar keren.

Trus kenapa sekarang saya meributkan masalah cita-cita anak-anak pada jaman saya dulu yang (hampir) semua ingin jadi dokter?

Karena sekarang saya punya anak. Dan tentu saja, seperti (hampir) semua orang tua di alam semesta ini, menginginkan anaknya menjadi ‘seseorang yang berarti’ di kemudian hari.

(to be continued)

Wednesday, April 23, 2008

Utara atau Selatan?

Komentar seorang teman saya yang tidak dibesarkan dalam budaya Jawa. Kenapa orang Jawa selalu menggunakan arah mata angin sebagai penunjuk arah. "Jalan saja ke Utara kurang lebih 200 m, lalu belok ke Barat..." Kenapa tidak menyederhanakan masalah dengan menggunakan kanan dan kiri sebagai referensi?

Entahlah, saya juga tidak tahu sebabnya. Yang saya tahu, saya juga tertempel kebiasaan serupa. Bahkan LCD display di dashboard mobil saya di Indonesia (dulu), selalu saya setel sebagai kompas digital. Supaya saya selalu 'sadar-arah' dan tidak bingung.

Atau mungkin karena di kampung halaman, saya selalu dikelilingi oleh fenomena2 alam yang bisa dijadikan patokan arah. Kalau saya di Jogja, ada G. Merapi yang selalu berada di Utara saya. Kalau di Temanggung, G. Sumbing tidak pernah bergeser dari arah Selatan saya. Kalau saya di kampung mertua, ada juga sebuah gunung (entah gunung apa itu) di arah selatan kampung.

Tadi siang, ada orang ORBIT (salah satu TV channel provider di Kuwait) menelepon untuk menanyakan letak gedung tempat saya tinggal. Mereka datang karena keluhan kami ttg buruknya signal yang tertangkap receiver kami dalam 3 hari terakhir ini. Saya tergagap-gagap demi mendengar pertanyaannya. Maklumlah, yang selama ini jadi jubir penunjuk arah untuk para pengunjung adalah hubby. Tapi untung, saya menyimpan secarik kertas berisi alamat tempat tinggal kami, in case saya tersesat dan harus melapor ke kantor polisi (he he he...). Jadi, saya bacakan saja alamat itu kepada si penelepon.

Tapi rupanya, alamat surat tidak terlalu mudah untuk dilacak keberadaannya secara fisik. Padahal menurut saya, tata kota di Kuwait ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan kampung halaman saya, yang jumlah rumah dengan nomer 351 bisa sampai 4 bijih !

Jadi, si penelepon masih mengejar saya dengan pertanyaan: "Where to be precisely is building no 123 ?"

Walah....

Terpaksa deh, saya kerahkan seluruh ingatan ttg landmark dekat2 rumah yang biasa kami lalui ketika pulang dari atau berangkat ke suatu tempat. Dan diujung pembicaraan telepon tersebut, saya ingat mengatakan sebagai berikut:

"...after Indian Store, you turn left and will see a fish store. From the fish store, go east until you find NTBC building. My building is southward this NTBC building..."

Penelepon saya terdiam beberapa jenak. Dan itu membuat saya sadar, kalau penelepon saya bingung dengan cara saya menunjukkan tempat dengan melibatkan arah utara, selatan dan teman-temannya.

Akhirnya si penelepon dengan nada agak putus asa menyarankan saya untuk melongok ke jendela, siapa tahu saya bisa melihat posisi mereka...

He he he... ya maaf lah, Bapak... Kebiasaan dari kampung memang sulit untuk dihilangkan.

Presentasi ttg Oil Industry di KBRI

Hari Jum'at kemarin ada acara kumpul2 di KBRI. Acara formalnya sih seminar dalam rangka memperkenalkan seluk beluk ttg Oil Industry kepada komunitas non-oil.

Hubby sebenarnya tidak terlalu ingin berangkat, mengingat hari Jum'at sore adalah jadwal Abang untuk ke TPA. Tapi, berhubung Fitri pagi-pagi kirim text-message menginformasikan bahwa pengajian dan TPA libur (dan kata Mas Muchtar ternyata gag libur loh Fit...) ya sudah, off we went lah....

Buat kami, yang dituju sih sebenarnya jajanannya. Kata Mas Jaka (suami Fitri nih), salah satu yang asik dari KBRI itu jajanan khas Indonesia yang sering dijual disana. Nah, karena itu hari Jum'at, kami sudah memprediksi KBRI bakal tutup. Tapi kan yang namanya seminar, pastilah dikasih snack. Lha, itunya yang kami cari.....

Lihat nih, pose Abang waktu presentasi ttg Petro Kimia. Oke banget gak sih... Kelihatan pinter kayak emaknya gitu... hua ha ha.... (hush ! Protes bayar...!!)

Sunday, April 20, 2008

Selamat Ulang Tahun, Ibu Kita Kartini...

Raden Ajeng (Adjeng) Kartini or, more accurately, Raden Ayu (Ajoe) Kartini, (April 21, 1879September 17, 1904), was a prominent Javanese and an Indonesian national heroine.

Ayuh...ayuh... siapa mau upacara pake kebaya?

Thursday, April 17, 2008

Sepatu ...oh, sepatu...

Saya selalu bermasalah dalam memilih sepatu. Bukan masalah modelnya. Masalah model itu sudah pada tahap advance pencarian sebuah sepatu. Masalah saya ini masih basic banget. Ukuran !

Yup, ukuran sepatu. Well, dengan sedikit malu-malu saya akan mengaku kalau ukuran kaki saya ini agak sedikit outstanding dibandingkan orang2 normal lainnya. Dulu waktu saya masih kecil sampai remaja, tidak terlalu merisaukan hal itu. Karena saya selalu masih bisa memilih sepatu laki-laki yang jelas menyediakan ukuran besar. Pun ketika saya bekerja, kebetulan sekali saya melakukan pekerjaan yang 'tidak mewanita', jadi tidak membutuhkan sepatu feminin.

Sekarang, ketika saya benar2 jadi wanita rumahan yang berkegiatan seputar hal-hal yang 'mewanita' masalah itu jadi semakin terasa. Repot kalau mau pergi ke resepsi atau undangan formal lain. Masa sih, atas pake kebaya atau rok bagus, bawahnya pake sepatu kets?

Nah, ketika saya dan hubby memutuskan untuk hijrah ke Middle East ini, saya agak sedikit berpengharapan dalam hal persepatuan ini. Kan konon kabarnya, segala sesuatu yang menyangkut Arabian berasosiasi dengan ukuran besar. Boleh dong saya berharap bakal menemukan sepatu feminin berukuran extra besar disini.

Tapina...

Sudah berapa toko sepatu kami datangi, permasalahan yang sama masih tetap saja ada. Memang mereka menyediakan sepatu ukuran extra besar, tapi selalu out of stock alias sudah keduluan diambil orang.

Jadi, sama aja sami mawon dong ending ceritanya....