Thursday, November 1, 2007

Rambut Abang dan listrik di rumah

Hari ini listrik di Taman Cemara lagi ndak beres voltage-nya. Turun naik gak karuan. Akhirnya beberapa kali listrik di rumah nge-trip karena gak kuat ngangkat banyak beban. Ujung2nya, kegiatan saya dengan komputer dan internet jadi terganggu. Sehari ini, sudah 3 kali saya sedang asik2nya nulis, tiba-tiba aja bup... listrik mati. Halah banget.... Jadi esmosi jiwa deh....

Jadi, supaya acara uring-uringan tidak berkelanjutan, saya matikan dulu komputer temporarily. Acara berpindah jadi nonton tivi. Seperti biasa penjajahan atas remote control TV ada di tangan para bayi. Untung saja, saya ini penggemar berat filem kartun. Jadi, biar TV dipasang terus di Playhouse Disney Channel, saya tetep enjoy aja nontonnya.

Sore hari, berasa deh bosen melototin TV. Lha gimana enggak, wong filem pagi diputer lagi sore. Mulai nih mata melirik kesana kesini nyari kesibukan. Mo baca buku, males banget. Mo cuci mobil, lebih males lagi. Mana diluar hujan lebat pula.

Hmmm.... tiba-tiba saya teringat niatan saya beberapa hari yang lalu. Mo berimprovisasi dengan hair style si Abang. Saya ingat dulu waktu di Duri, pernah lihat anak mbak Reni rambutnya di garis-garis di atas telinga. Lucu banget ! Sebenarnya beberapa hari yang lalu ketika sedang mencukur rambut si Abang, sudah mau saya 'kerjain' itu rambut. Tapi berhubung ndak punya silet, ya nggak jadi. Nah, sekarang mumpung gak ada kerjaan lain, dan sudah tersedia silet...

Hasilnya?

Ehh....agak tidak seperti yang diharapkan. Berhubung saya juga belum berpengalaman jadi tukang cukur yang

'manual'.

Pleassee... jangan ditertawakan ya. Kasihan si Abang...

Tuesday, October 30, 2007

Welcome rainy season

Sudah 3 hari ini, Jogja mendapat kunjungan hujan setiap hari. Lumayan terlambat sih dibandingkan beberapa daerah lain yang sudah mulai diguyur hujan semenjak sebulan yang lalu. Tapi bagi saya, tibanya musim hujan di Jogja ini pas banget timing-nya. Setelah didera udara panas dan gerah selama beberapa minggu, rasanya guyuran hujan benar-benar sesuatu yang menyejukkan. Sudah begitu, karena ini baru awal musim penghujan, durasi hujanpun pas banget. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar.

Dan seperti biasa pula, kedatangan perubahan musim ini selalu berasosiasi dg panen penyakit. Selesma dan flu. Jadi, di rumah saya biasanya pagi-pagi ada parade bersin. He he he, sesuatu yang lucu selama kita bukan peserta parade.

Pemimpin parade biasanya adalah Abang, secara dia ini gak tahan dingin dan alergi segala macam hal. Nah, kalo abangnya sudah mulai bersin-bersin, biasanya Nino suka ikut2an pura-pura bersin. Bukan bersin beneran sih, cuman mengekor bilang hattccuuu...

Tapi musim hujan kali ini, bersin2 Abang ternyata bukan sekedar flu atau selesma. Batuk-batuknya disertai juga dengan sesak nafas dan kenaikan suhu badan. Sudah begitu, matanya kelihatan sayu banget, kayak ngantuk terus gitu.

Saya yang hari itu sudah menyusun jadwal berkegiatan, jadi harus reschedule deh. Awalnya saya mau bawa Nino ke JIH untuk check up. Trus siangnya bawa Abang ke Panti Rapih. Tapi berhubung si Abang sudah kelihatan loyo sekali, ya sudah, saya bawa dia ke JIH yang dekat rumah. Setelah menunggu cukup lama dan disertai keluh kesah Abang, akhirnya kami masuk juga ke ruang periksa dokter. Setelah Dokter melakukan aksi pegang sana pegang sini, nunul sana nunul sini, akhirnya Abang diharuskan untuk nebulizer. Deg-degan juga saya, berhubung ini pengalaman pertama bagi kami.

Masuk ke ruang tindakan, Abang sempet menangis ketakutan karena melihat suster sedang in-action dengan jarum suntik. Padahal jarum suntik itu hanya untuk memasukan obat ke tabung nebulizer. Sesudah bujuk dan rayu segala macam rupa, akhirnya si Abang mau juga dipasangin masker. Ketika proses nebulize sdg on-going, si Abang ini tiba-tiba tidak bereaksi apa-apa. Wuaahhh.... saya sempet yang agak panik, takut kenapa-kenapa. Dalam pikiran saya, anak ini pingsan atau nggak kuat kepanasan uap gitu. Saya mau cari suster tapi terhalang oleh si Abang yang duduk di pangkuan saya. Akhirnya saya cuman pegang punggungnya dan rasakan detak jantungnya. Agak sedikit lega ketika berasa detak jantung yang kuat dan berirama normal. Ketika dokter masuk ke ruang tindakan untuk mengecek proses nebulizer, beliau langsung komentar: "Lho, kok tertidur..?"

Kesimpulan dokter hari itu, ada kemungkinan Daffa mengidap asma. Walaupun gejalanya agak sedikit menyimpang. Saya cerita juga pada dokter, kalau Daffa pernah mengalami kejadian yang sama persis, pada November 2005. Waktu itu awalnya batuk biasa, lalu saya beri obat yang saya beli di apotek. Ternyata bukannya sembuh tapi malah semakin parah dengan disertai sesak nafas dan panas tinggi. Well, asma di keluarga kami bukan berita baru bagi saya. Dari garis keluarga saya, asma kayaknya sudah inherited turun temurun.

Jadi, kami pulang dari JIH dg disertai pesan2 dari dokter. Kalau obatnya nggak bisa terminum (Abang ini susye banget minum obat), segera kembali ke rumah sakit lagi. Kalau sesak nafas menghebat lagi, segera bawa ke UGD. Di rumah harus istirahat, tidak boleh melompat-lompat, berlari-lari ataupun melakukan kegiatan fisik yang melelahkan.

Alhamdulillah, obat terminum. Setelah minum obat, nafas terlihat semakin lega. Tapi dasar anak-anak, susah sekali disuruh duduk diam. Begitu sudah berasa agak sedikit 'segar' mulai deh ritual kejar-kejaran dengan Nino di dalam rumah. Sampai melambai-lambai deh ini bibir mengingatkan. Habis gimana sih, namanya juga anak-anak...

Malam harinya, mulai lagi deh sesak nafas. Sudah niatan nih saya bawa ke UGD. Soalnya khawatir kalo malamnya tambah parah. Tapi saya pikir lagi, itu mungkin karena dia kurang istirahat. Jadi, sekarang dengan pasang tampang syerem, saya suruh Daffa tinggal di kamarnya. Tidak boleh bangun. Makan juga di tempat tidur. Sesudah makan, saya bawa ke belakang untuk minum obat. Saya tunggu 1 jam setelah minum obat, kalau belum membaik juga rencana mau saya bawa ke UGD. Hubby nih lewat telpun sudah mendesak aja untuk dibawa ke UGD. Daripada daripada...

Satu jam kemudian, sesak nafasnya mereda. Karena pengaruh obat, dan mungkin juga karena pengaruh mengurangi kegiatan fisik. Ya sudah, urung saya bawa ke UGD. Akhirnya saya suruh tidur awal.

Pagi ini, sesak nafasnya sudah hilang. Tapi masih tertinggal batuk-batuk.

Monday, October 29, 2007

Buah yang tidak punya idealisme jelas

Aneh?

Mungkin aneh bagi yang belum pernah mendengar istilah tersebut diatas. Tapi bagi yang sudah akrab dengan tabulapot alias tanaman buah dalam pot, itu bukan lagi istilah baru. Jerpaya (aka. Jeruk Pepaya) adalah buah jeruk yang ukurannya oversize bagi kebanyakan jeruk 'normal', walaupun juga tidak sebesar buah Pepaya.

Jeruk ini dalam istilah kuliner lebih dikenal sebagai jeruk sukade. Tanaman jeruk sukade berbentuk perdu. Buahnya serba menyimpang dari pakemnya sebagai jeruk. Ia disebut jeruk sukade karena kulit buahnya yang tebal dimanfatkan sebagai manisan yang pada zaman Belanda dulu terkenal sebagai sukade. Jeruk sukade juga sering dipakai untuk campuran pembuatan kue. Buah jeruk sukade besar, pada ujungnya terdapat nipple yang menonjol seperti pusar yang besar. Karena kulit buahnya tebal, daging buahnya jadi sedikit sekali. Saat masak kulit buahya msih tetap hiaju. Jeruk sukade juga dapat diambil minyak atsirinya.

Trus kenapa saya tiba-tiba menulis ttg Jerpaya alias jeruk sukade ini? Beginilah kisahnya.

Hari minggu kemarin saya pulang ke Temanggung. Temanggung adalah rumah saya semasa kecil hingga menjelang masuk kuliah. Rumah kami di Temanggung tidak bisa dibilang besar, tetapi ibu (alm.) punya sebidang kecil tanah yang memang didedikasikan untuk domestic vegetation. Macem-macem deh yang ditanam almarhum ibu saya dulu. Mulai dari tanaman bunga anggrek (species loh, bukan hybrid. And I'm so proud of this fact), amarilys dkk sampai cemara.

Beberapa bulan (atau tahun ya?) sebelum ibu meninggal, beliau mencoba-coba menanam 2 tanaman baru di lahan kecil kami tersebut. Yang pertama adalah mangga apel. Sounds confusing yak. Tanaman kok idealisnya ndak jelas, mau jadi mangga atau mau jadi apel. Ibu sempat mencicip buah pertama mangga apel ini. Saya juga sempat kebagian, soalnya waktu itu pas cuti kami pulang kampung. Enak banged, euy... Gak kayak apel gak kayak mangga. Buah ndak jelas tapi enak deh.

Trus tanaman yang kedua (yang juga tidak punya idealisme jelas) adalah Jerpaya ini. Nah, semenjak ditanam, pohon ini belum pernah berbuah. Buah pertama baru keluar sekitar 2 bln yll, which means hampir 2 thn semenjak kepergian ibu. Kadang tetangga-tetangga suka pada terharu melihat tanaman yang kini berbuah cukup banyak itu. Inget sama almarhumah yang begitu care dan sayang serta berharap sekali melihat tanaman Jerpaya ini berbuah.

Pulang kemarin, saya sempatkan petik satu buahnya. Iseng2 saya potong dan saya cicip. Rasanya? Bweehhhh.......

Kalau ada yang penasaran perihal 'tampang' jeruk yang tidak punya idealisme ini, saya attach-kan gambarnya. Please enjoy...

Thursday, October 25, 2007

Jajan mi ayam Pak Wie..

Dari postingan saya yang lalu, ada reply yang bikin saya sueneng banged. Ini nih, mo makan mi ayam Pak Wie sama Mas Wiwid dan Eddy. Langsung deh berencana dan semangat 45 mo nyamperin Titi jugak.

Ihuyy... pasti seneng deh ketemu teman2 lama.... Coba Mbak Ade masih di Jogja. Piye, Mbak? Mau ndaftar juga nggak?

Wednesday, October 24, 2007

Males banged...

Saya kok lagi nggak semangat ngapa-ngapain beberapa hari terakhir ini. Things just flow as they are. Mau posting blog, sudah duduk di depan komputer, sudah sampai di halaman Compose Blog Entry,....eh, malah jadi binun. Bingung mau nulis apa gitu....
Nongkrong di Sunsmile sudah nggak asik lagi. Berhubung tahun ajaran baru sudah lama berlalu, anak-anak sudah semakin terbiasa sekolah dan nggak rewel minta ditemani lagi. Jadinya para emak pengangguran lebih milih jalan-jalan di mol daripada nongkrong di Sunsmile. Saya jalan-jalan ke mol? Ogah banget deh. Mendingan disuruh jajan mie ayam Pak Wie daripada ngeluyur masuk mol. Nggak kuat biayanya itu....
Sebenarnya saya ada pending kerjaan sih. Tapi males banget mau bergerak. Mo ngumpulin tanda tangan RT, Dukuh, Lurah dan Camat. Mo ngeberesin KK yang kemaren sempat salah bikin di kecamatan. Karena koreksinya tidak saat itu juga, jadinya proses-nya harus diulang lagi, sama kayak bikin KK baru. Kalo KK sudah selesai, mo bikinkan paspor Abang dan Nino. Soalnya ngurus invitation juga harus pake paspor. Biar pas Abang libur panjang Desember besok, kita bisa berlibur nengokin Papanya.
Hoaahhhmmm.... tapi kok malesnya ini gak ketulungan yak? Apa ini tanda-tanda badan mo menggelembung? Kayaknya iya sih. Soalnya rasa lembam malas bergerak ini diiringi dengan nafsu makan yang 'agak' gila-gilaan gitu. Hhhh... pasrah deh.

Males banged...

Saya kok lagi nggak semangat ngapa-ngapain beberapa hari terakhir ini. Things just flow as they are. Mau posting blog, sudah duduk di depan komputer, sudah sampai di halaman Compose Blog Entry,....eh, malah jadi binun. Bingung mau nulis apa gitu....

Nongkrong di Sunsmile sudah nggak asik lagi. Berhubung tahun ajaran baru sudah lama berlalu, anak-anak sudah semakin terbiasa sekolah dan nggak rewel minta ditemani lagi. Jadinya para emak pengangguran lebih milih jalan-jalan di mol daripada nongkrong di Sunsmile. Saya jalan-jalan ke mol? Ogah banget deh. Mendingan disuruh jajan mie ayam Pak Wie daripada ngeluyur masuk mol. Nggak kuat biayanya itu....

Sebenarnya saya ada pending kerjaan sih. Tapi males banget mau bergerak. Mo ngumpulin tanda tangan RT, Dukuh, Lurah dan Camat. Mo ngeberesin KK yang kemaren sempat salah bikin di kecamatan. Karena koreksinya tidak saat itu juga, jadinya proses-nya harus diulang lagi, sama kayak bikin KK baru. Kalo KK sudah selesai, mo bikinkan paspor Abang dan Nino. Soalnya ngurus invitation juga harus pake paspor. Biar pas Abang libur panjang Desember besok, kita bisa berlibur nengokin Papanya.

Hoaahhhmmm.... tapi kok malesnya ini gak ketulungan yak? Apa ini tanda-tanda badan mo menggelembung? Kayaknya iya sih. Soalnya rasa lembam malas bergerak ini diiringi dengan nafsu makan yang 'agak' gila-gilaan gitu. Hhhh... pasrah deh.

Saturday, October 20, 2007

Kisah telur sekilo

Dari pengalaman telur sekilo pecah oleh Nino, saya sekarang lebih berhati-hati meletakkan segala sesuatu di rumah. Terutama fragile things, saya letakkan jauh-jauh dari jangkauan anak-anak.
Konsekuensi dari kehati-hatian itu, tadi pagi saya pusing tujuh keliling. Rencana mau bikin scambled egg untuk sarapan karena masih belum bisa belanja ke warung nor ke pasar. Pas mau siapin telur, saya lupa dimana telur sekilo yang saya beli tepat sebelum hari raya kemaren. Saya ingat, telur itu masih didalam bungkus plastik. Biasanya sih sepulang dari belanja, si embak langsung sigap memindahkan barang2 belanjaan ke tempat yang memang sudah diperuntukkan. Nah, ini berhubung si embak belum balik dari mudik, dan kebetulan saya ini males banget, ya sudah.... Yang terakhir kali saya ingat, telur itu sempat di'temu'kan oleh Nino. Tapi sempat saya amankan sebelum kejadian berlanjut dg hal2 yang mengerikan. Setelah itu, benar-benar blank...
Akhirnya, terpaksa deh beli soto ayam (yang tdk begitu enak) yang lewat di depan rumah. Sambil mikir-mikir, kira-kira dimana telur-telur itu ngumpet yak....